RI Juga Getol Impor Daging Kerbau, Ini Sejarahnya

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 24 Jan 2021 07:39 WIB
Daging Kerbau di Pasar Jatinegara
Foto: Daging Kerbau di Pasar Jatinegara (Anisa Indraini/detikcom)
Jakarta -

Status Indonesia di pasar dunia sampai saat ini masih sebagai negara pengimpor daging. Tak hanya daging sapi, daging lainnya seperti daging kerbau juga jadi salah satu alternatif yang dibutuhkan. Mengingat, stok daging sapi dan kerbau lokal belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat tiap tahunnya.

Untuk daging sapi, Indonesia begitu bergantung pada Australia. Namun, khusus untuk daging kerbau Indonesia bergantung kepada India.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mulai aktif mengimpor daging sejenis lembu asal India sejak 2016. Jumlahnya pun terus meningkat setiap tahun, hingga berada tepat di urutan kedua terbanyak setelah Australia.

Aktivitas importasi daging kerbau dari India itu dimulai dengan kerja sama bilateral yang serius. Saat itu, daging kerbau India dipilih karena harganya lebih murah ketimbang daging sapi lokal maupun impor.

Dikutip detikcom dari berbagai sumber, Sabtu (23/1/2021), dari Agustus 2016, daging kerbau beku dari India mulai berdatangan dan memenuhi gedung BULOG pusat.

Awalnya mulai dari seberat 364.000 Kg atau 364 ton daging kerbau India mengisi gudang BULOG. Perlahan jumlahnya bertahan, total impor daging kerbau yang masuk ke RI untuk periode Agustus 2016-Februari 2017 saja sudah mencapai 58 ribu ton. Namun, jumlah ini pun masih kurang dari setengah yang diharapkan pemerintah saat itu.

Bagaimana asal mulanya Indonesia termotivasi mengimpor daging kerbau India?

Untuk diketahui, pada periode 2015-2016 lalu, Indonesia pernah mengalami defisit kuota daging nasional hingga 36% total konsumsi tahunan.

Berbagai cara telah dilakukan pemerintah. Indonesia mulai membuka pintu bagi negara importir daging lainnya. Saat itu, Indonesia masih bergantung pada daging sapi Australia.

Indonesia menaikkan jumlah impor daging sapi Australia menjadi 2,8 juta kg. Sekaligus, melakukan impor daging jenis sapi dari beberapa Negara pengekspor daging sapi seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat, Spanyol, dan beberapa negara lainnya dengan jumlah total Impor daging tersebut sebanyak 10,1 juta kg.

Tingginya konsumsi daging sapi dalam negeri membuat harganya otomatis melambung di pasaran. Pada Agustus 2016 harga daging sapi lokal bisa menembus harga Rp 150.000/kg, sementara harga daging sapi impor seharga Rp 100.000, angka tersebut jauh di atas rata-rata yang dijanjikan Presiden Joko Widodo yaitu berada di kisaran harga Rp 80.000/kg.

Akhirnya pemerintah kembali putar otak berupaya menurunkan harga daging tersebut dengan menjual daging
kerbau ke pasar nasional sebagai alternatif dari ketergantungan daging sapi Impor dengan harga yang cukup tinggi.

Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita pun langsung menggelar pertemuan tertutup terkait hal tersebut. Hasilnya, mereka sepakat untuk menunjuk BULOG sebagai importir daging kerbau India.

Tak lama setelah itu, perwakilan India yaitu Confederation of India (CII) pun datang ke Indonesia salah satunya untuk membahas kerja sama ekspor-impor daging kerbau tersebut.

Akhirnya, surat izin impor pun terbit. Saat itu, pemerintah menargetkan RI bisa mengimpor hingga sebanyak 100 ribu ton daging kerbau India sampai dengan tahun 2017. Target dan realisasi mendatangkan daging kerbau impor India pun tiap tahunnya terus bertambah.

Dari data BPS terlihat total daging kerbau impor India yang masuk RI sepanjang 2016 mencapai 39,5 ribu ton. Jumlah itu naik jadi 45,1 ribu ton di tahun 2017, lalu naik lagi menjadi 79,63 ribu ton dan terakhir di 2019 menjadi 93,97 ribu ton.

Di 2020, jumlahnya semakin meningkat. Untuk memenuhi stok Ramadhan 2020 lalu saja, pemerintah sampai mengeluarkan izin impor daging kerbau India hingga 170 ribu ton.

Namun, saat itu sempat terkendala lockdown akibat pandemi COVID-19. Akan tetapi, pada akhirnya masalah itu dapat diatasi dan jumlah yang dipasok akan tetap sama besarnya dari target.

(zlf/zlf)