Liputan Khusus

Jangan Cuma Tergiur Cuan, Perhatikan Ini Sebelum Jadi Fotografer Gowes

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 24 Jan 2021 18:59 WIB
Penasaran kenapa foto para pesepeda keren-keren? Ini dia sosok-sosok fotografer yang rela rebahan di jalan hingga ngumpet di semak-semak dan pembatas jalan.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth
Jakarta -

Selama pandemi, menjadi seorang fotografer sepeda rupanya bisa jadi peluang usaha yang potensial. Sebab, masih sedikit yang menggeluti bidang tersebut, padahal penghasilannya lumayan besar. Ditambah lagi booming sepeda masih berlanjut hingga saat ini.

Fotografer sepeda berpotensi menjadi peluang usaha yang besar karena hasil yang didapatnya terbilang cukup besar. Untuk satu foto dibanderol Rp 100 ribu. Bisa dibayangkan jika hasil jepretan bisa laku lebih dari lima foto.

Tapi jangan buru-buru tergiur cuan. Bila salah melangkah, fotografer pemula cuma bakal tergilas mereka yang sudah punya banyak jaringan dan jam terbang lebih panjang.

Untuk menjadi seorang fotografer gowes, harus memperhatikan beberapa tipsnya dari para pelakunya langsung bahkan dari fotografer senior.

Fotografer senior Arbain Rambey menyebut, kunci untuk menjadi seorang juru foto andal adalah harus mendahulukan kualitas foto dibandingkan dari harga jual.

"Jadi seorang fotografer itu dipilih karena mutu sama harga. Kalau dia mutunya bagus banget tapi orang biasanya tidak peduli harga, tapi ada yang pemula perang harga yang berusaha semurah mungkin," kata dia kepada detikcom, Minggu (24/1/2021).

Tips yang selanjutnya, dikatakan Arbain adalah selalu jujur terhadap para pelanggannya. Menurut dia, seorang pelanggan rela membayar sebuah hasil foto yang kualitasnya memang bagus.

"Rumusnya adalah jangan pernah mengecewakan klien, kalau klien puas itu akan dari mulut ke mulutnya cepat. Tetapi sekali mengecewakan klien itu dampaknya permanen," katanya.

"Karena kadang-kadang orang tidak mempedulikan harga, lihat saja harga sepeda kalau suka pasti dikejar terus. Sama seperti fotografer, kalau punya trik yang keren maka orang tidak peduli dengan harga," tambahnya.

Sementara fotografer sepeda, Yulius Rianto menyebut tips untuk para pemula yang ingin mendapatkan hasil dari profesi fotografer sepeda di saat pandemi adalah harus memiliki peralatan untuk foto dan menguasai teknis tentang fotografi.

Yulius merupakan salah satu orang yang berhasil menjual foto orang bersepeda di masa pandemi. Hasil karyanya ini dibanderol Rp 100 ribu per foto. Dia biasanya memotret para penggowes di kawasan Mozia loop BSD, Tangerang.

Dia pun tidak mempersoalkan jika ada orang yang ingin mengikuti jejaknya sebagai fotografer sepeda di kawasan tersebut.

"Yang penting harus ngerti foto. Kemudian alatnya disesuaikan saja. Sampai saat ini kesulitan kita misalnya ada orang baru foto tergiur ditawar Rp 50 ribu agak susah, sedangkan standarnya Rp 100 ribu," kata Yulius.

Sementara Bayu, pemilik akun Instagram @guejualfoto ini menyebut untuk para masyarakat yang ingin menjadi fotografer sepeda harus bisa bersaing dan berinovasi terus. Bila perlu, hasil jepretan fotonya berbeda dengan yang sudah ada.

"Kalau sekarang pesaingnya sudah banyak. Jadi terus inovasi, gambarnya jangan itu saja, spotnya jangan itu saja, harus eksplor terus, orang juga akan melihat gambar di feed kalau itu itu saja bosen juga," kata Bayu.

Tips yang selanjutnya, dikatakan Bayu adalah kuota internet. Menurut dia, kuota internet sangat diperlukan untuk mengirim ke para pelanggan.
"Kalau mau bikin yang proper, ya modalnya juga proper. Karena kalau foto itu kan hasilnya di alat, kalau alatnya seadanya bisa tapi gambarnya kurang," ungkap Bayu.



Simak Video "Fotografer Cilik, Kediri"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/dna)