RI-Australia 'Didekatkan' oleh Daging Sapi Impor

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 24 Jan 2021 22:03 WIB
Kenaikan harga daging sapi berdampak pada pedagang daging sapi di Pasar Kosambi, Bandung. Meski harga daging naik, mereka tak bisa menaikan harga di pasaran.
Foto: Wisma Putra
Jakarta -

Salah satu negara yang rajin menjual daging sapi ke Indonesia adalah Australia. Bahkan porsi daging impornya paling banyak ketimbang negara-negara pengimpor lainnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 2015, Australia semakin rajin mengimpor daging ke Indonesia. Pada 2015, Australia mengimpor sebanyak 39,5 ribu ton daging ke Indonesia. Memasuki 2016, jumlahnya berlipat ganda menjadi 79,6 ribu ton. Lalu meningkat lagi menjadi 85,1 ribu ton pada 2017. Naik lagi di 2018 menjadi 100,6 ribu ton dan menjadi 122,6 ribu ton di 2019.

Lalu, sejak kapan Indonesia dan Australia 'didekatkan' oleh kegiatan ekspor impor daging sapi tersebut?

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Sabtu (23/1/2021), Indonesia mulai mengimpor sapi hidup dari Australia sejak tahun 1990. Saat itu, sapi impor dari Australia yang masuk RI baru mencapai 8.061 ekor namun pada tahun-tahun berikutnya tumbuh dan berkembang pesat dan pada 1997 mencapai 428.077 ekor atau naik 3 kali lipat, puncaknya pada 2009 impor sapi hidup dari Australia mencapai 772.868 ekor yang merupakan rekor tertinggi dalam 20 tahun sejak 1990-an.

Bukan berarti kegiatan ekspor impor sapi kedua negara mulus-mulus saja sepanjang tahun. Australia beberapa kali sempat membatasi bahkan memberhentikan ekspor sapi hidupnya ke Indonesia.

Pada Mei 2011, media rilis Australia yang dikeluarkan oleh National Farmers Federation, Shipment Council Australia, Cattle Council Australia, Northern Territory Cattlemen's Association, Australian Livestock Exporters' Council, Live Corp and Meat and Livestock Australia (MLA) meminta kepada industri terkait di Indonesia untuk menghentikan pasokan sapi kepada tiga rumah potong hewan di Lampung, Tangerang, dan Medan karena cara pemotongan sapi di sana dianggap kejam.

Lalu, selanjutnya pada 8 Juni 2011 Pemerintah Australia melalui Menteri Pertanian, Perikanan dan Kehutanan secara resmi memberhentikan ekspor sapi hidup ke Indonesia. Sejak saat itu, Indonesia sempat puasa dari sapi impor Australia selama 6 bulan hingga tahun 2012. Namun, impor daging beku tetap berjalan demi menjaga pasokan dalam negeri tetap aman.

Sejak itu, impor sapi dari Australia mulai mulus lagi. Bahkan impor sapi dari Australia menjadi yang terbanyak dibanding negara lainnya.

Pada 2012, impor daging sapi Australia ke Indonesia mencapai 75% dari total daging impor yang masuk RI. Disusul Selandia Baru sebanyak 21,9% dan Amerika serikat sebanyak 3,1%. Di 2019, ekspor sapi hidup Australia ke Indonesia tahun 2019 mencapai angka 675.874 ekor. Menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan ekspor daging sapi terbesar bagi Australia.

Ketergantungan Indonesia terhadap daging sapi Australia tentu pada akhirnya akan menimbulkan masalah. Terbukti, baru-baru ini, Indonesia terancam kelangkaan daging sapi.

Lantaran, para pedagang sapi di Jabodetabek kompak menggelar mogok jualan di pasar beberapa hari terakhir ini. Penyebabnya karena harga daging sapi impor dari Australia saat ini memang sedang melambung tinggi.

Sedangkan, pedagang tak berani menaikkan harga mengingat lesunya daya beli masyarakat belakangan ini terimbas pandemi COVID-19.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto mengungkap, saat ini harga sapi hidup dari Australia tengah mengalami kenaikan dari biasanya US$ 2,8 atau sekitar Rp 39.200 per kg menjadi US$ 3,78 atau Rp 52.900 per kg. Hal itu tentu mempengaruhi harga daging sapi di Indonesia.

"Kami dapat informasi menurut importir dari negara asal di Australia mereka membeli juga mengalami kenaikan yang 6 bulan lalu masih sekitar US$ 2,8 per kg berat hidup, saat ini harga di kisaran US$ 3,78 per kg," kata Suhanto dikutip dari akun YouTube Kemendag, Jumat (22/1/2021).

Suhanto mengaku dapat informasi dari Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) bahwa harga daging sapi di Indonesia mengalami kenaikan akibat dari Rumah Potong Hewan (RPH) menaikan harga antara 11,6-12,6%. Meski begitu, pihaknya mengaku telah mendapat solusinya untuk jangka pendek dan panjang.

"Solusi jangka pendek kami mendapat informasi masih ada kesediaan daging sapi di salah satu perusahaan di DKI masih ada tersedia sekitar 17.000 ton. Kami juga berkoordinasi dengan Kementan dan dia dengan telah berupaya keras untuk peningkatan produktivitas petani dalam rangka populasi sapi," ucapnya.

Akhirnya, karena sudah terlalu lama terlalu ketergantungan dengan daging sapi impor Australia, pemerintah mulai berinisiatif mencari importir dari negara lain. Salah satu yang jadi alternatif pengganti adalah Meksiko. Hal itu dilakukan untuk memastikan ketersediaan daging sapi di Indonesia bisa terpenuhi.

"Dalam jangka panjang kami coba mencari terobosan, strategi baru dengan mencari sumber-sumber dari negara lain. Contohnya yang sekarang kita lakukan mencoba importasi sapi dari Meksiko," imbuhnya.



Simak Video "Harga Daging Sapi Meroket, Pedagang di Parepare Dilema"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)