Jokowi Sempat Singgung Subsidi Pupuk, Mentan Beberkan Data Ini

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 25 Jan 2021 15:23 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melakukan rapat kerja (raker) dengan Komisi IV DPR-RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/2019).
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo/Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengklaim subsidi pupuk memberikan nilai tambah bagi produksi pertanian Indonesia hingga mencapai 250% atau Rp 98,4 triliun.

"Hasil kajian Balitbangtan 2020 nilai tambah produksi sebagai dampak pupuk bersubsidi mencapai Rp 98,4 triliun. Jika dibandingkan anggaran yang digunakan rata-rata dari 2014-2020 Rp 28,1 triliun, maka nilai manfaat mencapai 250%," kata Syahrul dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (25/1/2021).

Sebelumnya, isu penyaluran subsidi pupuk sempat disinggung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian di Istana Negara pada 11 Januari lalu.

Jokowi menilai dana yang digelontorkan oleh negara untuk subsidi pupuk yang mencapai Rp 33 triliun tidak sejalan dengan produksi yang dihasilkan. Oleh karena itu, dia meminta agar subsidi pupuk tersebut dievaluasi.

"Pupuk, saya jadi ingat pupuk, berapa puluh tahun kita subsidi pupuk, setahun berapa subsidi pupuk? Rp 30-an triliun, berapa Bu Menteri Keuangan, Rp 33 triliun seingat saya. Rp 33 triliun, setiap tahun, return-nya apa? Kita beri pupuk kembaliannya kita apa? Apakah produksi melompat naik? Rp 33 triliun. Saya tanya kembaliannya apa?" kata Jokowi, Senin (11/1/2021) lalu.

"10 tahun sudah berapa triliun? Kalau 10 tahun sudah Rp 330 triliun, bapak ibu dan saudara-saudara angka itu besar sekali, artinya tolong ini dievaluasi, ini ada yang salah, saya berkali-kali meminta ini," tambahnya.

Kembali ke Syahrul, dia menjelaskan pupuk bersubsidi itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan luas baku sawah 7,46 juta hektare sebanyak 21 juta ton pupuk. Namun pihaknya baru memenuhi 9 juta ton pupuk, di mana pangan hanya teralokasi 6,1 juta ton.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tahun 2018 yang dipaparkan, produksi tanaman padi Indonesia mencapai 5,19 ton per hektare (ha). Volume tersebut lebih tinggi dari negara produsen beras lainnya, seperti Thailand yang hanya 3,09 ton per ha; Filipina 3,97 ton per ha; India 3,88 ton per ha; serta Pakistan 3,84 ton per ha.

"Produksi padi tersebut masih terdapat peluang untuk kita tingkatkan di masa akan datang," ujarnya.

Dalam data Balitbangtan, tercatat produktivitas tanpa subsidi pupuk untuk tanaman padi mencapai 4,19 ton per ha atau turun 18,09%, sedangkan tanaman jagung sebesar 4,24 ton per ha atau turun 24,06%.

Potensi penurunan produksi tanpa subsidi untuk padi sebesar 9,86 juta ton dengan nilai Rp 51,79 triliun, sedangkan potensi penurunan produksi jagung sebesar 6,8 juta ton dengan nilai Rp 21,41 triliun.

(aid/ara)