Izin Lagi Diurus, GeNose Beredar di Stasiun 5 Februari

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 25 Jan 2021 17:40 WIB
Alat deteksi corona lewat embusan napas yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu GeNose terus berprogres. Saat ini teknologi pengendus COVID-19 telah memasuki tahap uji diagnostik.
Foto: Pius Erlangga
Jakarta -

Pemerintah akan memanfaatkan alat pendeteksi virus COVID-19 lewat embusan napas, bernama GeNose. Alat racikan para ahli dari UGM itu rencana beredar di seluruh stasiun kereta pada 5 Februari nanti.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan GeNose dipilih karena memang memiliki harga yang paling murah dibandingkan seluruh alat pendeteksi COVID-19 yang ada saat ini. Selain itu ada kebanggaan bahwa alat tersebut merupakan buah hasil anak bangsa.

"GeNose produk dalam negeri yang harganya murah, Rp 20 ribu. Sementara yang lain dari yang murah sampai yang Rp 1 juta. Nah memang kami laporkan kita akan lakukan bertahap, terutama kami utamakan kereta api," ucapnya dalam rapat kerja dengan Komisi V, Senin (25/1/2021).

Budi menilai kereta dianggap paling pas menggunakan GeNose. Selain transportasi massal yang cukup banyak penumpang, harga tiket juga relatif lebih murah dan terjangkau semua kalangan. Beberapa kondisi harga jasa deteksi COVID-19 bisa lebih mahal dari harga tiketnya.

Kementerian Perhubungan akan diberi kewenangan oleh Gugus Tugas COVID-19 untuk memberikan surat keterangan mengenai penggunaan GeNose di stasiun kereta api. Budi Karya menargetkan mengeluarkan surat tersebut sehingga pada 5 Februari 2021 GeNose sudah bisa dipergunakan di seluruh stasiun kereta api.

"Kami memang nanti malam rapat dengan Gugus Tugas dan infonya Gugus Tugas akan memberikan kewenangan kepada kami untuk memberikan surat keterangan bahwa ini sudah bisa dipakai. Insya Allah tanggal 5 Februari sudah bisa kita pakai," tutur Menhub.

(das/hns)