PBB Sebut Krisis Tenaga Kerja Selama Pandemi Terparah Sejak 1930

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 26 Jan 2021 13:47 WIB
Masa kejayaan Legian, Bali, semakin memudar imbas pandemi COVID-19. Mulai dari turis mancanegara hingga pertokoan tutup.
Ilustrasi/Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut krisis tenaga kerja akibat pandemi COVID-19 merupakan yang terparah sejak 1930-an. Dalam catatan organisasi itu selama 2020 sekitar 225 juta telah kehilangan pekerjaannya.

"Ini merupakan krisis paling parah bagi dunia kerja sejak Depresi Hebat tahun 1930-an," kata Direktur Jenderal Organisasi Perburuhan Internasional PBB (ILO), Guy Ryder, dikutip dari BBC, Selasa (26/1/2021).

Krisis selama pandemi telah menyebabkan penurunan 8,8 jam kerja. Hal itu empat kali lebih besar dibanding dengan kondisi krisis keuangan pada 2008. PBB pun memperingatkan bahwa pemulihan masih belum pasti. Meskipun ada harapan dengan hadirnya vaksin COVID-19 yang diharapkan bisa memulihkan ekonomi dunia.

Selain itu, untuk 2021 PBB memprediksi jam kerja akan lebih rendah 3% daripada 2019. Kira-kira setara dengan 90 juta pekerjaan penuh waktu yang akan berkurang menurut laporan dari ILO. Tetapi keadaan bisa semakin buruk jika distribuai vaksin lambat dan pemerintah tidak memberikan bantuan sosial.

"Tanda-tanda pemulihan yang kami lihat menggembirakan, tetapi rapuh dan sangat tidak pasti, dan kita harus ingat bahwa tidak ada negara atau kelompok yang dapat pulih sendiri," kata Ryder.

ILO mengatakan sekitar setengah dari jam kerja yang hilang disebabkan oleh perusahaan yang memecat karyawannya.

Ketenagakerjaan juga turun 114 juta dibandingkan tahun 2019, karena sekitar 33 juta orang kehilangan pekerjaa. Secara keseluruhan, angkatan kerja turun 2,2 poin persentase tahun lalu, dibandingkan dengan hanya 0,2 poin persentase di antara 2008 dan 2009.

Tanpa skema dukungan pemerintah menurunnya tingkat tenaga kerja menyebabkan, pendapatan ekonomi global akan hilang sebanyak US$ 3,7 triliun atau sekitar 4,4% dari keseluruhan output ekonomi. Wilayah-wilayah seperti Amerika Latin, Karibia, Eropa Selatan dan Asia Selatan merupakan wilayah yang terkena dampaknya.

(eds/eds)