Ada Varian Baru Virus Corona, Ekonomi Dunia Diprediksi Masih Suram

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 27 Jan 2021 09:47 WIB
imf
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini diprediksi masih menurun karena pandemi virus Corona (COVID-19) belum usai meskipun ada program vaksinasi massal dan besaran stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) sebelumnya mengharapkan ekonomi global tumbuh 5,5% tahun ini atau 0,3 poin lebih cepat dari perkiraan sebelumnya pada bulan Oktober. Peningkatan tersebut melihat ekspektasi yang didukung oleh vaksin di akhir tahun dan kebijakan tambahan di beberapa negara besar.

Namun lonjakan kasus pada akhir 2020, pembatasan baru, dan masalah logistik dengan distribusi vaksin dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Ditambah jika varian baru virus Corona sulit dikendalikan, ekonomi global tahun ini akan turun 0,75% dari perkiraan IMF. Ke depan, IMF memperkirakan pertumbuhan global melambat menjadi 4,2% pada tahun 2022.

"Sekarang banyak bergantung pada hasil dari perlombaan antara virus yang bermutasi, vaksin untuk mengakhiri pandemi, dan pada kemampuan kebijakan untuk memberikan dukungan yang efektif," kata Kepala Ekonom IMF, Gita Gopinath dikutip dari CNN, Rabu (27/1/2021).

IMF memprediksi beberapa negara akan pulih lebih cepat dari yang lain. China, yang merupakan satu-satunya ekonomi besar yang tumbuh pada tahun 2020, diperkirakan mencapai pertumbuhan 8,1% tahun ini.

Amerika Serikat (AS) akan bangkit dari keterpurukan dan tumbuh 5,1%, lebih cepat dari prediksi IMF pada bulan Oktober. Sedangkan 19 negara U i Eropa diperkirakan tumbuh 4,2% pada 2021.

Inggris, yang mengalami kontraksi 10% tahun lalu saat meninggalkan Uni Eropa (UE) dan sekarang berjuang melawan varian baru virus Corona, diperkirakan pulih dengan pertumbuhan 4,5%.

"Perbedaan yang luas mencerminkan perbedaan yang penting antar negara dalam perilaku dan respons kesehatan masyarakat terhadap infeksi, fleksibilitas dan adaptasi kegiatan ekonomi terhadap mobilitas rendah, tren yang sudah ada sebelumnya, dan kekakuan struktural yang memasuki krisis," kata IMF.

(aid/ara)