Ada Lumbung Pangan, Luhut: Jangan Impor Lagi, Kita Bisa Ekspor

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 28 Jan 2021 13:43 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Foto: KEMENKO MARVES
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut proyek food estate atau lumbung pangan yang sedang digarap oleh pemerintah saat ini merupakan kesempatan emas untuk mewujudkan modernisasi pertanian Indonesia.

Modernisasi pertanian bisa terus ditingkatkan dengan tiga pengungkit utama yaitu bibit, pupuk, serta alat dan mesin pertanian (alsintan). Khusus untuk alsintan, mekanismenya dinilai harus masif untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

"Sebutlah kita punya lahan 7,5 juta hektare (ha). Alsintan cukup kita masifkan separuhnya saja. Bayangkan berapa peningkatan produktivitas yang bisa kita hasilkan. Jangan impor-impor lagi. Kita bahkan bisa ekspor," kata Luhut dalam keterangan tertulis, Kamis (28/01/2021).

Teknologi alsintan seperti drone, water drip irrigation, dan transplanter diharapkan bisa mendukung pertanian modern yang lebih terintegrasi. Luhut pun mendukung sinergi yang dibangun oleh Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) maupun lembaga-lembaga lainnya dalam pengembangan riset pertanian maupun alsintan.

Apalagi pengembangan alsintan dinilai merupakan langkah penting untuk mewujudkan pertanian modern.

"Tidak ada yang bisa dikerjakan sendiri. Kita harus bekerja sama dalam wujudkan pertanian modern," ujarnya.

Sementara Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebut pihaknya memang sedang fokus meningkatkan penggunaan alsintan oleh petani di lapangan. Apalagi mekanisasi pertanian memang dipercaya dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan produksi.

"Penggunaan alsintan bisa menekan angka losses (susut hasil) hingga di bawah 3-5%. Kalau kita mau tingkatkan produktivitas berbagai komoditas strategis kita, mulai dari padi, kedelai, hingga gula, maka mekanisasi pertanian harus menjadi bagian penting dari program kita," terang Syahrul.

Syahrul menyebutkan peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) juga perlu diberikan akses untuk terlibat dalam pengembangan setiap tahapan pembangunan pertanian, dari hulu hingga ke hilir.

"Kita bisa siapkan (teknologi) itu, saya yakin sekali. Saya dan kawan-kawan siap kerja di lapangan," sebut Syahrul.

(aid/ara)