Anak Buah Erick Thohir Sebut 2 Tahun Lagi 75 Juta Pekerjaan Punah

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 28 Jan 2021 15:00 WIB
Sejumlah tamu beraktivitas di dekat logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Kementerian BUMN meluncurkan logo baru pada Rabu (1/7) yang menjadi simbolisasi dari visi dan misi kementerian maupun seluruh BUMN dalam menatap era kekinian yang penuh tantangan sekaligus kesempatan. ANATAR FOTO/Aprillio Akbar/nz
Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jakarta -

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia (SDM), Kementerian BUMN Alex Denni mengungkapkan bahwa pandemi COVID-19 telah mentransformasi banyak aspek kehidupan. Salah satunya terkait dunia ketenagakerjaan.

Dulunya para pakar memprediksi sekitar 3 atau 5 tahun mendatang orang-orang mulai menerapkan kerja dari rumah atau secara mobile tak perlu ke kantor. Dengan adanya pandemi COVID-19, hal itu terjadi lebih cepat dari perkiraan awalnya.

"COVID-19 sudah mengakselerasi apa yang kita perkirakan terjadi 3 atau 5 tahun ke depan terjadi lebih cepat dari perkiraan itu misalnya kita memperkirakan sebagian besar orang nanti bekerja dari rumah, remote dan mobile, oleh COVID-19 hari ini kita dipaksa bekerja lebih banyak di rumah dan mobile," ujar Alex dalam seminar virtual dengan LPPI, Kamis (28/1/2021).

Hal yang sama akan terjadi pada jenis profesi apa saja yang bisa bertahan dan bakal punah di masa depan. Menurut Alex, mengutip hasil kajian World Economic Forum, 2 tahun mendatang lebih dari 75 pekerjaan bakal punah digantikan oleh teknologi.

"Dalam perspektif human capital yang kami khawatirkan sangat adalah kajian-kajian terkait job shifting bahwa dengan adanya implementasi teknologi hampir di semua aspek kehidupan manusia itu diperkirakan dalam 2 tahun ke depan lebih dari 75 juta job akan hilang dan digantikan oleh teknologi," ungkapnya.

Ia merinci 10 jenis pekerjaan yang mungkin bakal punah di masa depan adalah entri data, akuntansi, pembukuan dan penggajian, administrasi dan sekretaris eksekutif, customer service, buruk pabrik, petugas layanan pos, general and operation manager, akuntan dan auditor, serta layanan bisnis dan manajer administrasi.

"Tentu saja job-job ini adalah yang bersifat transaksional rutin, simpel dan lain-lain," sambungnya.

Di sisi lain, akan terbuka lebih banyak jenis profesi baru namun harus dibarengi dengan kemampuan, pengetahuan dan cara kerja yang baru. Setidaknya bakal tercipta 133 juta profesi baru di masa depan.

"Dan the good side of technology adalah dia juga akan create job baru, dan job baru yang lahir bahkan diperkirakan lebih banyak dari job yang akan hilang tetapi persoalannya job yang baru ini tentu membutuhkan skill yang baru, knowledge yang baru dan behaviour yang baru agar karyawan tetap bisa relevan di dalam industrinya," katanya.

Adapun jenis profesi baru yang paling dibutuhkan di masa depan adalah data analyst dan scientists, Artificial Intelligence dan Machine Learning Specialists, General and Operations Managers, Software & Applications Developers & Analysts, Sales & Marketing Professional, Big Data Specialists, Digital Transformation Specialists, New Technology Specialists, Organisational Development Specialists, dan Information Technology Services.

(ara/ara)