Berbasis OVOV, 1.000 Kampung Hortikultura Fokus Ekonomi Skala Luas

Yudistira Imandiar - detikFinance
Senin, 01 Feb 2021 11:41 WIB
Lewat Kampung Hortikultura, Kementan mengonsolidasi lahan-lahan dalam satu kawasan kesatuan administratif, yaitu kampung atau desa.
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Kampung Hortikultura termasuk salah satu bagian dari program gerakan mendorong produksi hortikultura berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan yang dijalankan Kementerian Pertanian melaluit Ditjen Hortikultura. 1.000 kampung hortikultura disiapkan untuk menghasilkan produk hortikultura berkualitas.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan di tahun 2021 produksi dari subsektor hortikultura harus lebih baik dari tahun sebelumnya, khususnya cabai dan bawang.

"Selain itu juga komoditas lain yang mampu meningkatkan neraca ekspor-impor. Pengembangan hortikultura harus ditempuh dengan terobosan khusus atau dengan cara-cara extraordinary dan inovatif. Pendekatannya juga harus holistik, terintegrasi hulu hingga hilir," kata Syahrul dalam keterangan tertulis, Senin (1/2/2021).

Lewat Kampung Hortikultura, Kementan mengonsolidasi lahan-lahan dalam satu kawasan kesatuan administratif, yaitu kampung atau desa. Syahrul berharap program 1.000 Kampung Hortikultura ini dapat terkelola dengan baik sehingga memiliki skala ekonomi yang besar.

Kampung-kampung Hortikultura akan dibangun dalam satu wilayah administratif desa dengan luasan 5-10 hektare, tergantung pada komoditas yang dikembangkan pada kampung tersebut. Untuk satu kampung buah dan sayur, luasan lahan yang diperlukan minimal adalah 10 hektare. Sementara itu, untuk satu kampung tanaman obat diperlukan lahan minimal seluas 5 hektare.

Kampung Hortikultura mengusung konsep One Village One Variety (OVOV). Komoditas unggulan yang akan dikembangkan dipilih berdasarkan kesesuaian agroekosistem dan permintaan pasar untuk menjamin pemasaran hasilnya.

1.000 Kampung Hortikultura yang akan dikembangkan terdiri dari 56 kampung pisang, 47 kampung mangga, 61 kampung manggis, 167 kampung durian, 75 kampung kelengkeng, 72 kampung alpukat, 45 kampung jeruk, 2 kampung buah naga, 200 kampung bawang merah, 200 kampung cabai besar, 15 kampung sayuran daun, 50 kampung tanaman obat, 68 kampung bawang putih, 30 kampung cabai rawit, 25 kampung kentang, dan 4 kampung bawang bombay.

"Pengembangan kampung hortikultura ini akan kita sosialisasikan di Kostratani dan ditampilkan di Agriculture War Room Kementan. Kita umumkan bahwa di desa ini terdapat kampung buah atau sayuran tertentu. Kalau kita mau memajukan hortikultura, maka kita harus mulai menggunakan konsep ini," jelas Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto.

Konsep Kampung Hortikultura, lanjut Prihasto, harus dijalankan menyeluruh hingga menyentuh titik-titik kampung. Tidak hanya dalam bentuk hamparan tetapi juga pada skala rumah tangga, dengan tetap memperhatikan kebutuhan lahan minimal 5 hektare untuk kampung tanaman obat dan 10 hektare untuk kampung sayur dan buah. Terkait calon petani dan calon lokasi (CPCL) di Kampung Hortikultura, Prihasto menjelaskan usulan CPCL akan dikoordinasikan dengan otoritas pertanian setempat.

"Kita tetap kembangkan melalui CPCL yang sesuai usulan dari dinas pertanian setempat, baik dalam bentuk hamparan ataupun petani yang tidak memiliki lahan yang luas. Misalnya petani yang hanya punya 100 m2, 200 m2 namun berada dalam satu kampung sehingga kalau dihimpun dan dikonsolidasikan menjadi berskala luas minimal 5 ha untuk sayuran dan 10 ha untuk buah. Yang terpenting tujuannya adalah peningkatan kesejahteraan petani. Pemberian bantuan akan dilaksanakan hingga ke desa agar manfaatnya dapat langsung dirasakan petani," ulas Prihasto.

Kawasan pertanian di Kampung Hortikultura akan diberikan bantuan secara terintegrasi mulai dari aspek hulu hingga hilir, antara lain berupa benih bermutu, saprodi (pupuk organik, anorganik, kapur pertanian/dolomit, mulsa plastik, dan lain-lain), pengendali OPT ramah lingkungan, sarana dan prasarana pascapanen, serta pengolahan.

Prihasto menambahkan produk yang dihasilkan akan diregistrasi dan disertifikasi untuk memudahkan dalam monitoring serta pengontrolan kualitas. Pengawalan dan pendampingan secara intensif juga akan dilakukan dari hulu hingga hilir.

Pengembangan hortikultura melalui pendekatan kampung, kata Prihasto, diharapkan dapat lebih memudahkan masuknya dukungan fasilitas lainnya seperti akses permodalan melalui pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), mekanisasi, pengairan, kelembagaan, pemasaran sehingga ke depan dapat mendukung pembentukan Korporasi Petani.

"Tujuan terbentuknya kampung hortikultura bukan hanya kawasan hortikultura berskala besar namun berujung pada kesejahteraan petani. Semua kami bina mulai dari bimbingan GAP (Good Agriculture Practices) selama budidaya hingga GHP (Good Handling Practices). Benih yang diberikan juga benih bermutu. Selama pembudidayaan juga kami kawal aspek perlindungannya. Jadi ini betul-betul proyek besar untuk memajukan hortikultura berskala besar," urai Prihasto.

(akn/hns)