RI Butuh Modal Pembangunan, Sri Mulyani Sebut APBN dan BUMN Tak Cukup

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 01 Feb 2021 16:54 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali menjelaskan alasan pemerintah membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau sovereign wealth fund (SWF) yang bernama Indonesia Investment Authority (INA). Menurutnya, kehadiran INA bertujuan mendukung pembangunan di Indonesia yang tak cukup jika hanya bermodalkan APBN atau penugasan BUMN.

"Kita tidak mungkin hanya mengandalkan instrumen yang terbatas, yaitu terutama APBN atau kekayaan negara yang dipisahkan yaitu BUMN. Kalau kita menggunakan 2 instrumen itu secara besar, pasti nanti akan muncul masalah sustainability," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (1/2/2021).

Selain itu, menurutnya kehadiran LPI akan memberi kepastian terhadap modal pembangunan yang dibutuhkan Indonesia.

"Makanya, di dalam rangka Indonesia tetap tunggu tinggi, kalau dulu mungkin ketika boom harga minyak atau komoditas terjadi, kita baru punya momentum lebih bagus lagi. Kita ingin momentum pembangunan itu terjaga secara ajeg (tetap)," jelas dia.

Dengan LPI ini, maka investor punya banyak pilihan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

"Seperti tadi ekuitas vs loan. Kalau sekarang ini para pemodal baik di dalam maupun luar negeri lebih aman membeli surat utang pemerintah atau surat utang perusahaan. Atau dia masukkan saja ke bank dalam bentuk DPK (dana pihak ketiga), maka kita harus membuat supaya orang harus melihat supaya ada choice atau pilihan untuk tidak hanya dalam bentuk surat utang tadi," papar dia.

Sri Mulyani menegaskan, kehadiran LPI tidak menutupi celah instrumen investasi lainnya bagi investor. Namun, justru melengkapi dengan yang sudah ada, sehingga memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

"Ini nanti akan menjadi complementary terhadap LPI-nya di mana orang mau bawa uang dan mau masuk ke Indonesia dan dia akan bersama-sama investasi. Jadi itu complementary, bukan saling menghilangkan, tapi saling menguatkan," tegasnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2