KKP Dorong Masyarakat Budidaya Ikan Pakai Sistem Bioflok

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Selasa, 02 Feb 2021 20:08 WIB
Budidaya ikan sistem bioflok
Foto: dok. KKP
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong masyarakat menerapkan inovasi teknologi budidaya ikan sistem bioflok. Di sepanjang tahun 2020, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menyalurkan 421 paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok kepada 379 pokdakan di 32 Provinsi, 190 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.

Adapun di tahun 2021 ini KKP menargetkan untuk kembali menyalurkan bantuan bioflok sebanyak 304 paket bantuan dengan komoditas ikan lele atau nila.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengungkapkan bantuan budidaya ikan sistem bioflok dapat menjadi solusi pemenuhan pangan masyarakat Indonesia. Terutama di tengah peningkatan pendudukan hingga mencapai 271 juta jiwa menurut data sensus terakhir.

"Dengan kelebihan seperti efisiensi pemanfaatan lahan serta limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik sehingga dapat diintegrasikan dengan tanaman seperti sayur dan buah, inovasi ini dapat menjamin ketersediaan sumber pangan bagi masyarakat," jelas Slamet dalam keterangan tertulis, Selasa (2/2/2021).

Lebih lanjut Slamet mengungkapkan keunggulan lain dari budidaya ikan sistem bioflok seperti padat tebar yang lebih tinggi, masa pemeliharaan lebih singkat, serta efisien dalam penggunaan air dan pemberian pakan. Menurutnya, berbagai kelebihan bioflok ini memberi keuntungan lebih bagi masyarakat, sekaligus menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya yang ramah lingkungan.

Slamet menilai penerapan budidaya ikan sistem bioflok ini sejalan dengan arahan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang mencanangkan agar fokus pada perikanan budidaya berkelanjutan.

"Menjadi arahan dari Bapak Menteri agar KKP dapat bersinergi dengan akademisi, pemerintah daerah, kementerian/lembaga lain hingga berbagai elemen masyarakat untuk dapat membangun lokasi budidaya yang berteknologi tinggi namun ramah lingkungan, seperti membangun kampung-kampung budidaya perikanan," ucap Slamet.

Slamet pun mengungkapkan budidaya ikan sistem bioflok ini memiliki potensi untuk dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menerapkan teknologi budidaya. Ia berharap hal ini dapat menjadi bekal ilmu dalam melakukan usaha budidaya kedepan.

"Selain teknologi, implementasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang wajib untuk diterapkan seperti penggunaan benih bermutu yang berasal dari induk unggul, pakan yang berkualitas, pengelolaan kualitas air, serta manajemen kesehatan ikan dan lingkungan juga menjadi tambahan ilmu yang penting bagi pelaku usaha budidaya," terang Slamet.

Ia juga berpesan akan pentingnya pelaku usaha untuk memiliki manajemen serta jejaring yang kuat antar sesama pembudidaya maupun dengan dinas atau penyuluh perikanan setempat. Hal ini dinilai Slamet sebagai sarana pertukaran informasi untuk mendapatkan transfer teknologi yang tepat.

"Dengan sistem manajemen yang baik dan jejaring yang kuat, budidaya ikan sistem bioflok ini dapat menjanjikan keuntungan yang besar bagi pembudidaya dan berkelanjutan dari sisi usaha maupun lingkungan," pungkas Slamet.

Sementara itu Slamet menjabarkan catatan dari Satu Data KKP yang menunjukkan adanya peningkatan sejak tahun 2015-2019 terhadap produksi ikan lele dan nila sebagai komoditas yang dibudidayakan pada budidaya ikan sistem bioflok. Data sementara mencatat, produksi ikan lele mengalami kenaikan sebesar 9.23% per tahun. Sedangkan untuk produksi ikan nila naik rata-rata sebesar 5.59% per tahun.

Sebagai informasi salah satu penerima bantuan budidaya ikan sistem bioflok pada tahun 2020 yakni Yayasan Insan Mandiri Denpasar cabang Lombok telah berhasil melakukan panen perdana setelah melakukan pemeliharaan selama dua bulan.

Ketua Yayasan Insan Mandiri Denpasar cabang Lombok Romo Patrisius Woda Fodhi menyatakan terdapat beberapa kendala dan tantangan dalam pemeliharaan. Antara lain curah hujan yang tinggi serta perawatan kualitas air agar lele tidak terjangkit penyakit. Meski demikian Ia menilai hal tersebut dapat diatasi dengan usaha ekstra yang dilakukan oleh pengelola dengan bimbingan dari KKP melalui Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok.

"Kami mendapatkan pendampingan dan pelatihan secara menyeluruh oleh BPBL Lombok, mulai dari persiapan, proses budidaya hingga berhasil panen. Keterampilan ini akan kami teruskan kepada anggota yayasan lain termasuk melibatkan siswa jenjang SMP dan SMA agar mereka memiliki modal ilmu untuk berwirausaha," tandas Patrisius.

Sementara itu Kepala BPBL Lombok Mulyanto mengatakan selain memberdayakan potensi perikanan budidaya, khususnya untuk komoditas lele dan nila, bantuan budidaya ikan sistem bioflok juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Tak hanya itu, Ia juga berharap program ini dapat menjadi sentra edukasi yang dapat mentransfer ilmu dan teknologi kepada masyarakat lebih luas.

"Dengan edukasi menyeluruh dari KKP serta manajemen usaha budidaya yang baik dari penerima bantuan bioflok ini diharapkan akan lebih banyak kelompok masyarakat maupun lembaga pendidikan di Nusa Tenggara Barat yang akan mendapatkan paket bantuan serupa di masa mendatang," tutup Mulyanto.

(prf/prf)