Terbongkar! Ada Maloperasi di Balik Insiden PLTP Mandailing Natal

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 17:08 WIB
Melihat Aktivitas si PLTP Kamojang Milik PGE

Dua Pekerja tengah melakukan pengecekan sumur KMJ-51 di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/10/2017). PT PGE Area Kamojang mengoperasikan 92 sumur, untuk memasok uap bagi Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Unit 1 sampai 5, dengan total kapasitas listrik terpasang 235 MW. Grandyos Zafna/detikcom

-.  PLTP Kamojang Unit 4 dan 5  dengan kapasitas 2x35MW beroperasi pada pertengahn tahun 2015, merupakan pilot project PT Pertamina Geothermal Energy, dalam mengoperasikan PLTP secara total project. Total project yakni pengerjaan proyek mulai dari tahapan eksplorasi dan pengembangan lapangan uap, hingga pembangunan dan pengoperasian PLTP untuk kemudian dijual dlm bentuk listrik.

-. PLTP Kamojang mulai di uji coba pada tahun 1978  dan mulai beroperasi pada tahun 1983.
Ilustrasi PLTP/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

DPR memanggil Kementerian ESDM dan pihak operator terkait kecelakaan du PLTP Sorok Merapi Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kementerian ESDM pun menjelaskan hasil investigasi dari kecelakaan di PLTP tersebut.

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan telah terjadi maloperasional pada kejadian di PLTP Sorok Marapi. Peristiwa ini masuk ke dalam kejadian berbahaya kategori berat.

"Kesimpulannya ini ada maloperasional di lapangan Sorok Marapi, ini menjadi kejadian berbahaya kategori berat," ujar Dadan dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Rabu (3/2/2021).

Dadan mengatakan hal ini akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya bagi PT Sorok Marapi Geothermal Power (SMGP).

"Ini menjadi tanggung jawab sepenuhnya di Sorok Marapi, resiko begini sudah dihitung dan ini menjadi tanggung jawab mereka," ujar Dadan.

Dia juga menjelaskan beberapa poin dari investigasi sementara yang sudah dilakukan, Dadan mengatakan telah terjadi perencanaan kegiatan yang kurang matang. Salah satu masalahnya adalah kegiatan yang berubah waktunya secara dadakan.

"Perencanaan ini kurang matang, karena kegiatan ini pun secara waktu berubah-ubah," kata Dadan.

Kemudian ada masalah pelanggaran prosedur yang ditetapkan saat operasi pembukaan sumur. Pasalnya, pihak SMGP selaku operator tidak memperhatikan kandungan gas yang ada di dalam sumur, utamanya kandungan H2S-nya.

Dadan juga mengatakan kegiatan persiapan keamanan juga tidak dilakukan dengan baik. Pasalnya, pada saat sesi briefing awal tidak semua orang yang terlibat ikut serta.

"Untuk kegiatan persiapan safety tidak diikuti seluruh yang terlibat, security misalnya yang hadir hanya kepala securtiy-nya," ujar Dadan.

Dadan juga mengatakan sosialisasi ke masyarakat kurang baik, pasalnya masih ada masyarakat yang berkegiatan di radius 300 meter di dekat lokasi pembukaan sumur. Padahal jarak amannya 300 meter dari lokasi pembukaan sumur. Dia mengatakan korban yang berjatuhan berada di radius jarak 125 meter.

"Jadi korban ditemukan terjadi di jarak yang harusnya daerah itu bebas, radius aman dari konten H2S itu minimal 300 meter. Nah korban itu ditemukan di jarak 125 meter itu masuk dalam lingkaran yang seharusnya nggak ada orang," kata Dadan.

Dadan juga mengatakan ada juga peralatan dan instalasi penunjang yang belum siap dan lengkap. Salah satunya alat komunikasi, tidak semua yang terlibat menggunakan alat komunikasi, sehingga saat gas H2S mengenai masyarakat tidak bisa langsung ditutup sumurnya. Bahkan, masyarakat harus sampai menerobos masuk untuk sumur ditutup.

"Setelah 3 menit kan muncul uap panas bumi berwarna putih, 10 menit kemudian seorang warga menerobos masuk minta sumur ditutup karena beberapa pingsan di sawah," ujar Dadan.

Tonton video 'Mendulang Emas Di Sungai Mandailing Natal Sumatera Utara':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/hns)