Gali Kasus PLTP Mandailing Natal, DPR Panggil ESDM cs

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 15:22 WIB
PLTP Kamojang yang berada di Garut merupakan pembangkit listrik yang mengandalkan tenaga panas bumi. PLTP ini disebut sebagai yang tertua lho di Indonesia.
Ilustrasi PLTP/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Komisi VII DPR memanggil Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM dan pihak PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP). DPR memanggil kedua pihak tersebut untuk meminta penjelasan soal kecelakaan kerja di PLTP Sorik Marapi di Mandailing Natal yang menewaskan sejumlah orang.

Ketua Komisi VII Sugeng Suparwoto mengungkapkan pihaknya melakukan pemanggilan Dirjen EBTKE Dadan Kusdiana untuk meminta penjelasan soal apa yang terjadi di PLTP Sorik Marapi.

"Telah terjadi musibah dari PLTP di Mandailing Natal, akibatnya 5 orang meninggal dunia dan puluhan warga sekitar dilarikan ke rumah sakit.
Sehubungan dengan itu komisi VII ingin meminta penjelasan detail perihal penanganan korban dan hasil investigasi sementara perihal bagaimana musibah ini bisa terjadi," kata Sugeng dalam rapat kerja yang disiarkan melalui YouTube, Rabu (3/2/2021).

Dia meminta Dadan menjelaskan bagaimana pelaksanaan SOP dan K3 yang dilakukan di PLTP Sorik Marapi. Termasuk apakah ada kemungkinan human error dalam kejadian ini.

"Baik dari pelaksanaan SOP dari sisi K3, maupun dari kemungkinan terjadinya human error ini penting untuk evaluasi bersama untuk menghindari musibah di kemudian hari," ujar Sugeng.

Sebelumnya, pada Senin (25/1/2021) yang lalu telah terjadi paparan material yang diduga gas H2S terhadap warga masyarakat di sekitar PLTP Sorik Marapi. Itu terjadi ketika berlangsung kegiatan buka sumur (well discharge) sumur SM T02 pada proyek panas bumi PLTP Sorik Marapi Unit II.

Kegiatan buka sumur merupakan salah satu tahapan dalam pengoperasian PLTP dan dilaksanakan dengan prosedur yang ketat.

Sebelum memulai buka sumur, PT SMGP melakukan seluruh rangkaian prosedur keamanan, antara lain sosialisasi kepada semua pekerja dan masyarakat, evakuasi seluruh pekerja dari wellpad, penetapan batas perimeter aman, melengkapi tim well test dengan SCBA dan gas detector, dan final sweeping sebelum kegiatan buka sumur dimulai.

Buka sumur dilakukan sekitar pukul 12.00 WIB dengan mengalirkan steam ke silencer untuk dibersihkan sebelum dialirkan ke PLTP. Namun, sekitar pukul 12.30 WIB dilaporkan ada masyarakat yang pingsan.

Pada saat itu, warga sedang berada di sawah yang berjarak sekitar 300-500 meter dari lokasi sumur panas bumi. Pada saat kejadian, seluruh alat gas detector yang ditempatkan tidak mendeteksi adanya gas H2S. SMGP memutuskan segera menutup kembali sumur.

Penanganan difokuskan untuk menolong masyarakat terdampak. Status sementara 15 orang dirawat di RSUD Panyabungan dan 5 orang meninggal dunia. SMGP telah melaporkan kejadian ini kepada instansi pemerintah terkait, pemerintah daerah, dan kepolisian.

Kemudian, Kementerian ESDM pun langsung menghentikan sementara seluruh aktivitas di pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sorik Marapi.

(hal/hns)