3 Fakta Hotel-Restoran di Yogyakarta Bangkrut

ADVERTISEMENT

3 Fakta Hotel-Restoran di Yogyakarta Bangkrut

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 19:30 WIB
Tugu Pal Putih Yogyakarta bebas dari kabel listrik, Rabu (16/12/2020)
Foto: Agus Septiawan/detikTravel
Jakarta -

Sebanyak 172 hotel dan restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhenti beroperasi. Dari angka itu, 50 hotel dan restoran sudah mati alias bangkrut. Sementara sisanya memilih berhenti beroperasi untuk sementara.

Berdasarkan data keanggotaan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, total hotel-restoran sebenarnya adalah 380. Dengan demikian, jumlah hotel-restoran yang tercatat sebagai anggota PHRI dan masih bertahan hanyalah 158.

1. Cuma Bertahan 3 Bulan Lagi

Menurut Ketua PHRI DIY Deddy Pranawa Eryana, hotel-hotel yang tersisa itu sebagian besar hanya mampu bertahan 3 bulan lagi di tengah tekanan pandemi COVID-19.

"Ada lima kategori kekuatan hotel dan restoran. Pertama kuat, setengah kuat, pingsan, hampir mati, mati. Nah yang kuat, setengah kuat, pingsan, itu hanya tiga bulan kekuatannya dari sekarang. Yang setengah kuat saja sudah merasakan goyang. Yang kuat itu sudah hampir ke kategori setengah kuat. Yang owner kelas hiu sampai dengan wader itu saja sudah mulai resah dengan kondisi ini. Mungkin tambah lagi nantinya kalau ini belum ada solusi," kata Deddy kepada detikcom, Selasa (2/2/2021).

Menurutnya, hal ini sudah menunjukkan kondisi berbahaya bagi bisnis hotel dan restoran. Ia pun mengibaratkannya dengan sinyal SOS.

"Realita sekarang kondisi hotel dan restoran di DIY ya seperti ini, sudah SOS. Tanpa ada solusi dari pemerintah, campur tangan dari pemerintah. Kita tidak mengemis, tapi ini realita. Kita sudah tidak bisa apa-apa lagi," ungkap Deddy.

2. Beban Operasional Tinggi

Deddy mengatakan, para pengusaha hotel dan restoran diDIY yang masih bertahan hingga saat ini juga mengalami persoalan cash flow. Pasalnya, pemasukan seret dengan okupansi rata-rata h

anya 10%. Namun, pengusaha masih harus menanggung beban biaya listrik, air, BPJS untuk karyawan, dan sebagainya.

"Beban yang paling berat itu kan listrik, BPJS, pajak-pajak, air, tanah, dan lain-lain. Sementara argo itu terus berputar, tagihan-tagihan terus berputar. Ada hotel dan restoran yang pinjam bank, itu juga ditarik terus, bunga bank juga masih ada Nah mereka kan bingung, sementara pemasukan nggak ada. Ini menjadi dilematis bagi kita," tutur dia.

3. Hotel-Restoran di Yogyakarta Dijual

Deddy mengatakan, 50 pengusaha hotel dan restoran yang sudah bangkrut tersebut ada indikasi memilih jalan untuk menjual hotelnya. "Kemungkinan, karena mereka sudah bingung. Saya nggak mau pusing, nggak mau gila, nggak mau sakit, ya saya jual saja aset," tutur Deddy.

Deddy mengatakan, jika pemerintah tak memberikan bantuan lagi kepada pengusaha, maka tiga bulan lagi akan semakin banyak hotel dan restoran yang berjatuhan.

"Kita minta sentuhan lagi dari pemerintah. Jangan sampai PHRI sudah diberi, nggak ngaku diberi. Saya mengaku kok, kemarin sudah diberi. Tapi dengan ada pembatasan ini semakin drop, kita butuh solusi," tutupnya.

(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT