Help! Bisnis Hotel-Restoran di Yogyakarta Sekarat

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 08:40 WIB
ilustrasi kamar hotel
Ilustrasi/Foto: Thinkstock
Jakarta -

Ratusan hotel dan restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terpaksa berhenti beroperasi alias tutup sementara karena pandemi COVID-19 yang menihilkan pengunjung. Tak sampai di situ, puluhan hotel dan restoran sudah dipastikan gulung tikar alias mati karena tak mampu bertahan di tengah sepinya pengunjung selama pandemi.

Dari catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), sebanyak 172 hotel dan restoran sudah berhenti beroperasi atau tidak menerima tamu, namun masih mempekerjakan karyawannya. Sementara itu, ada 50 hotel dan restoran yang sudah mati.

Meski masih ada yang bertahan, namun menurut Ketua PHRI DIY Deddy Pranawa Eryana, jumlah hotel-restoran berpotensi untuk bertambah karena hanya bisa bertahan 3 bulan lagi.

"Ada lima kategori kekuatan hotel dan restoran. Pertama kuat, setengah kuat, pingsan, hampir mati, mati. Nah yang kuat, setengah kuat, pingsan, itu hanya tiga bulan kekuatannya dari sekarang. Yang setengah kuat saja sudah merasakan goyang. Yang kuat itu sudah hampir ke kategori setengah kuat. Yang owner kelas hiu sampai dengan wader itu saja sudah mulai resah dengan kondisi ini. Mungkin tambah lagi nantinya kalau ini belum ada solusi," kata Deddy kepada detikcom, Selasa (2/2/2021).

Ia pun mengibaratkan sinyal bahaya atas kondisi hotel-restoran di Kota Pelajar itu.

"Realita sekarang kondisi hotel dan restoran di DIY ya seperti ini, sudah SOS. Tanpa ada solusi dari pemerintah, campur tangan dari pemerintah. Kita tidak mengemis, tapi ini realita. Kita sudah tidak bisa apa-apa lagi," jelas dia.

Deddy mengatakan, para pengusaha hotel dan restoran di DIY yang masih bertahan hingga saat ini juga mengalami persoalan cash flow. Pasalnya, pemasukan seret dengan okupansi rata-rata hanya 10%. Namun, pengusaha masih harus menanggung beban biaya listrik, air, BPJS untuk karyawan, dan sebagainya.

Sedangkan,50 hotel dan restoran yang sudah mati atau gulung tikar ada indikasi memilih jalan untuk menjual hotelnya. "Kemungkinan, karena mereka sudah bingung. Saya nggak mau pusing, nggak mau gila, nggak mau sakit, ya saya jual saja aset," ucap Deddy.

Deddy menuturkan, apabila pemerintah tak memberikan bantuan lagi kepada pengusaha, maka tiga bulan lagi akan semakin banyak hotel dan restoran yang berjatuhan.

"Kita minta sentuhan lagi dari pemerintah. Jangan sampai PHRI sudah diberi, nggak ngaku diberi. Saya mengaku kok, kemarin sudah diberi. Tapi dengan ada pembatasan ini semakin drop, kita butuh solusi," tutup Deddy.

Simak juga video 'Kreativitas Hotel di Solo Bikin Inovasi Makan di Kolam Renang':

[Gambas:Video 20detik]



(vdl/eds)