Luhut Sebut RI Telat Punya Lembaga Pengelola Investasi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 20:46 WIB
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan materi saat menjadi pembicara pada Diplomasi Maritim Indonesia di Jakarta, Jumat (22/2/2019). Acara tersebut untuk memperluas pandangan antara pembuat kebijakan, akademisi, dan komunitas diplomatik mengenai tujuan pemerintah Indonesia dalam bidang maritim. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/ama.
Foto: Dok. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/
Jakarta -

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia sebetulnya terlambat dalam membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI) alias Sovereign Wealth Fund. Luhut bahkan mengatakan negara-negara lain sudah membentuk institusi ini puluhan tahun yang lalu.

Sementara Indonesia baru saja efektif membentuk institusi ini bulan Februari ataupun Maret.

"Kita sangat terlambat membuat institusi ini (LPI). Negara-negara lain sudah ada beberapa puluh tahun lalu. Kita baru mulai tahun lalu. Jadi efektif mungkin baru bulan Februari ini atau Maret awal," ujar Luhut dalam Special Dialogue IDX Channel, Rabu (3/2/2021).

Lebih lanjut mantan Menko Polhukam mengatakan pengaruh LPI sangat besar. Utamanya pada BUMN-BUMN di Indonesia. Melalui fasilitas tematic fund, aset-aset BUMN bisa ditingkatkan valuasinya.

"Jadi berapa besar pengaruhnya saya kira sangat besar. Saya kira SWF kita ini agak unik, ada tadi master fund, dan tematic fund. Tematic fund ini sebenarnya nanti akan kita isi dengan aset-aset dari BUMN, sehingga bisa dibuat lebih efisien sehingga valuation-nya bisa lebih tinggi," kata Luhut.

Luhut mengatakan LPI bagaikan melakukan backdoor listing kepada perusahaan BUMN dengan begitu, valuasinya akan naik.

"Mungkin seperti back door listing lah. Misalnya anak perusahaan Pertamina, Petrochemical, kita chip in ke dalam itu kan bisa bikin jadi clean dibersihin. Valuasi sekarang US$ 70 miliar, bisa mungkin bisa US$ 100 miliar ke depan," kata Luhut.

(hal/hns)