3 Fakta di Balik Ekonomi Indonesia yang Masih Resesi

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 05 Feb 2021 20:00 WIB
Deretan gedung bertingkat di kawasan Jakarta, Senin (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 mencapai 5,02 persen (year on year).
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia menjadi salah satu negara yang ekonominya masih resesi di tahun 2020. Hal itu menyusul realisasi pertumbuhan ekonomi yang minus 2,07% di tahun lalu. Rendahnya ekonomi nasional ini karena terdampak pandemi COVID-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hanya China dan Vietnam yang pertumbuhannya sudah terbebas dari jurang resesi. Kedua negara tersebut berhasil tumbuh positif ekonominya di kuartal IV-2020.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2020 ini pun menjadi yang terendah sejak krisis moneter (krismon) tahun 1998. Berikut fakta-faktanya:

1. Masih Resesi

Ekonomi Indonesia sudah masuk jurang resesi sejak kuartal III-2020. Hal itu menyusul realisasi perekonomiannya berada di zona negatif yaitu minus 3,49%, setelah pada kuartal sebelumnya minus 5,32%.

Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi secara dua kuartal berturut-turut. Dengan begitu, selama bulan November tahun lalu hingga saat ini ekonomi Indonesia masih resesi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 2,07% di tahun 2020. Setelah pada kuartal IV realisasinya minus 2,19%. Sepanjang tahun 2020, hanya pertumbuhan kuartal I yang positif yaitu 2,97%.

Sementara sisanya berada di zona negatif semua, yaitu masing-masing minus 5,32% di kuartal II, lalu minus 3,49% di kuartal III, dan minus 2,19% di kuartal IV.

"Jadi sekali lagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi 0,42% secara q-to-q, dan YoY minus 2,19% di 2020. Secara kumulatif alami kontraksi 2,07%," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video conference, Jumat (5/2/2021).