3 Fakta di Balik Ekonomi Indonesia yang Masih Resesi

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 05 Feb 2021 20:00 WIB
Deretan gedung bertingkat di kawasan Jakarta, Senin (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 mencapai 5,02 persen (year on year).
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy

2. Terendah Sejak Krismon 1998

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 tercatat -2,07% (year on year). Angka ini menjadi catatan terburuk sejak kejadian krisis moneter 1998, 22 tahun silam.

"Dengan demikian sejak 1998 untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi alami kontraksi karena adanya krismon dan global, dan di 2020 minus 2,07% karena pandemi," Suhariyanto.

Saat itu, krisis ekonomi berkepanjangan membawa ekonomi Indonesia pada 1998 mengalami kontraksi hingga 13,16%. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) saat itu juga tembus Rp 16.650 dari yang awalnya Rp 2.000.

Krismon 1998 hingga 1999 juga menjadi tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami minus. Setelah itu, ekonomi Indonesia perlahan semakin membaik setelah digulingkannya rezim Orde Baru yang sudah berkuasa lebih dari tiga dekade.

3. Daya Beli Loyo

Daya beli masyarakat Indonesia masih sangat rendah di tahun 2020 yang tercermin dari tingkat konsumsi rumah tangga. BPS mencatat realisasi konsumsi rumah tangga nasional berada di level minus 2,63% selama tahun 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan rendahnya tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret tahun lalu.

"Pertumbuhan ekonomi terkontraksi 2,07%. Kontraksi konsumsi rumah tangga di sana selama tahun 2020 alami kontraksi minus 2,36%," kata Suhariyanto.

Suhariyanto menyebut, konsumsi rumah tangga dan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menjadi kontributor terbesar pada kelompok pengeluaran. Kedua komponen ini berkontribusi sebesar 89,40% terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun 2020.


(hek/eds)