Biang Kerok Ekonomi Indonesia Terjebak di Jurang Resesi

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2021 06:29 WIB
Poster
Ilustrasi/Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Ekonomi Indonesia belum mampu keluar dari jurang resesi. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi nasional minus 2,07% sepanjang tahun lalu.

Pada kuartal IV-2020, pertumbuhan ekonomi nasional minus 2,19%. Jika dilihat lebih jauh, angka tersebut terkontraksi minus 0,42% dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka realisasi ini juga menandakan ekonomi belum keluar jurang resesi.

Pasalnya, ekonomi Indonesia tiga kuartal berturut-turut berada di zona negatif. Pasa kuartal II realisasinya minus 5,32% dan kuartal III minus 3,49%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan mayoritas kinerja komponen pengeluaran tumbuh negatif di sepanjang tahun lalu. Hanya ada satu komponen yang kinerjanya masih positif yaitu konsumsi pemerintah.

"Dilihat dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 minus 2,07%. Tadi kita bisa lihat seluruh komponen alami pertumbuhan negatif kecuali konsumsi pemerintah," kata Suhariyanto dalam video conference, Jumat (5/2/2021).

Berdasarkan catatan BPS, komponen pengeluaran yang berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi sebesar 89,40% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Namun realisasinya di sepanjang tahun 2020 berada di zona negatif. Untuk konsumsi rumah tangga realisasinya minus 2,63%. Pengeluaran konsumsi LNPRT minus 4,29%, investasi atau PMTB minus 4,95%, ekspor minus 7,70%, impor minus 14,71%. Sedangkan konsumsi pemerintah positif 1,94%.

"Kalau investasi selama 2020 negatif 4,95% dan kalau kita lihat PMTB ini sumber kontraksi yang terdalam yaitu minus 1,63%," jelasnya.

Dengan kata lain, investasi atau PMTB menjadi penyebab terbesar bagi realisasi pertumbuhan ekonomi yang minus 2,07% pada tahun 2020. Penyebab kedua berasal dari konsumsi rumah tangga yang minus 1,43%, konsumsi LNPRT yang minus 0,05%. Sementara komponen pengeluaran lainnya yang positif 0,89% dan konsumsi pemerintah positif 0,15%.

"Dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu minus 2,07%, maka PDB per kapita alami penurunan seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, yaitu sebesar Rp 56,9 juta per kapita atau setara US$ 3.911,7," terang Suhariyanto

Simak juga Video "Penjelasan BPS Soal Ekonomi RI 2020 Terburuk Sejak Krismon 98":

[Gambas:Video 20detik]



(hek/hns)