Ekonomi RI -2,07%, Kemenkeu: Lebih Baik dari Banyak Negara G20

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2021 10:50 WIB
Para pekerja menyelesaikan proyek LRT di Jl Rasuna Said, Jakarta, beberapa waktu lalu. Diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik pada tahun 2018 seiring pertumbuhan ekonomi dunia yang menggembirakan.
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kementerian Keuangan menanggapi realisasi pertumbuhan ekonomi nasional yang minus 2,07% di tahun 2020. Secara keseluruhan, instansi yang dipimpin Sri Mulyani Indrawati ini menyatakan lebih baik dibandingkan banyak negara ASEAN maupun G20.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu mengatakan realisasi pertumbuhan ekonomi yang minus 2,07% ini juga sesuai dengan proyeksi pemerintah yang berada di rentang minus 2,2% sampai minus 1,7% di tahun 2020.

"Kinerja pertumbuhan ekonomi ini lebih baik dibandingkan banyak negara di ASEAN maupun G20 yang mengalami kontraksi cukup dalam," katanya dalam keterangan resmi yang dikutip, Sabtu (6/2/2021).

Beberapa negara ASEAN dan G20 yang ekonominya terkontraksi seperti Amerika Serikat (AS) minus 3,5%, Jerman minus 5,0%, Rusia minus 3,1%, Singapura minus 5,8%, Filipina minus 9,5%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia haya lebih rendah dari Korea Selatan yang minus 1,0%, China positif 2,3%, dan Vietnam 2,9%.

Meski perekonomian nasional masih berada di zona negatif, pemerintah menilai realisasi di kuartal IV-2020 menandakan adanya perbaikan atau pemulihan. Ekonomi nasional tercatat minus 2,19% di kuartal IV yang lebih baik dibandingkan kuartal II dan kuartal III yang mana angkanya masing-masing minus 5,32% dan minus 3,49%.

Selain itu, pemulihan ekonomi nasional juga terlihat dari sisi produksi di beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan seiring tingginya permintaan di tengah pandemi. Seperti sektor informasi dan komunikasi (infokom) tumbuh 10,9%, jasa kesehatan tumbuh 16,5%, dan pertanian tumbuh 2,6%.

Sementara itu, sektor-sektor yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional seperti industri pengolahan, perdagangan, pertambangan, dan jasa keuangan terus menunjukkan arah pemulihan dengan tumbuh lebih baik meskipun masih berada di zona negatif.

Industri pengolahan tumbuh minus 3,1% di kuartal IV atau lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 4,3% Perdagangan tumbuh minus 3,6% dibandingkan kuartal III yang minus 5,0%. Pariwisata tumbuh minus 13,4% atau lebih baik dibandingkan kuartal III yang minus 16,7% dan minus 30,8 di kuartal II.

Sejalan dengan itu, sektor penyediaan akomodasi makan minum juga tumbuh lebih baik pada kuartal IV ini yaitu sebesar minus 8,9% dari sebelumnya yang terkontraksi 11,8% di kuartal III dan minus 22,0% di kuartal II.

(hek/eds)