Round-Up Berita Terpopuler

Lingkaran Setan Bisnis Kedelai, Berapa Pajak Mobil Ayu Ting Ting?

Tim detikcom - detikFinance
Minggu, 07 Feb 2021 21:21 WIB
Para perajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo) mendapatkan jatah impor kedelai sebesar 125.000 ton di 2013. Jumlah ini jauh lebih besar dari perhitungan awal yang hanya diberikan 20.000 ton. (Foto: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengungkap penyebab kenaikan harga kedelai. Ia menyebut, salah satu penyebabnya ialah adanya 'lingkaran setan' kartel importir kedelai.

Tingginya harga kedelai ini sempat dikeluhkan para perajin tahu tempe belakang ini.

"Kalau kita bicara bagaimana masalah jagung atau kedelai? Ya itu akar masalahnya, ada lingkaran setan yang sulit kita basmi kecuali bersama-sama," ungkap Buwas dalam teleconference, Rabu lalu (3/2/2021).

Berita mengenai lingkaran setan bisnis kedelai ini merupakan berita paling banyak dibaca di detikcom. Selain itu, ada juga berita mengenai pajak mobil Ayu Ting Ting hingga soal hotel-hotel yang dijual yang menarik para pembaca. Berikut berita terpopuler di detikcom:

1. Lingkaran Setan Bisnis Kedelai

Buwas mengatakan, lingkaran setan itu berwujud distribusi kedelai yang berlapis-lapis, sehingga ongkos pengiriman kedelai tinggi, dan akhirnya masyarakat dibebani dengan harga yang mahal. Terutama untuk produk tahu dan tempe yang selalu menjadi makanan sehari-hari rakyat Indonesia.

"Kenapa bisa mahal? Teman-teman bisa lihat, akar masalahnya karena kartel terlalu banyak, birokrasi terlalu panjang. Satu ke satu semua pakai biaya yang kita istilahkan ini satu wujud korupsi sebenarnya. Tapi hasil atau beban korupsi dibebankan ke masyarakat/konsumen," kata Buwas.

Di sisi lain, sebenarnya Bulog punya tugas menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga kedelai. Tugas itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perum BULOG Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional. Sayangnya, Buwas mengaku saat ini tugas itu tak bisa dijalankan, termasuk juga impor kedelai.

Buwas mengatakan, para perajin tahu dan tempe seringkali menanyakan Bulog yang tak pernah mengimpor kedelai.

"Kalau secara regulasi harusnya Bulog yang punya kewenangan, padi, jagung, kedelai. Bahkan asosiasi perajin tahu dan tempe sudah ketemu saya berkali-kali. Pak Dirut kenapa tidak impor kedelai sehingga kita ini betul-betul dinaungi dan terjamin untuk produksi tahu dan tempe di seluruh Indonesia? Saya bilang maunya juga gitu, persoalannya saya tidak bisa impor kecuali ada penugasan. Nah mereka baru tahu itu bahwa Bulog tidak bisa otomatis impor, meski secara regulasi beras, jagung, kedelai itu kewenangan Bulog," papar dia.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2