Meski Merugi, Maskapai AS Kantongi Kas Gabungan Rp 441 T

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 08 Feb 2021 10:41 WIB
A British Airways Boeing 747 passenger aircraft prepares to take off as passengers wait to board a flight in Cape Town International airport in Cape Town, South Africa, January 12, 2018. Picture taken January 12 2018. REUTERS/Hannah McKay
Foto: Dok. REUTERS/Hannah McKay
Jakarta -

Industri penerbangan Amerika Serikat (AS) menutup tahun 2020 dengan kerugian gabungan bersejarah US$ 32 miliar setara Rp 448 triliun (kurs Rp 14.020). Namun, diketahui maskapai masih mengantongi sejumlah uang di neraca perusahaan.

Dikutip dari CNN, Senin (8/2/2021) Empat maskapai penerbangan terbesar di AS American Airlines, Delta, United dan Southwest diketahui masih menyimpan US$ 31,5 miliar setara Rp 441 triliun. Nilai itu naik dari US$ 13 miliar pada 2019.

Likuiditas disebut-sebut menjadi kunci para eksekutif maskapai penerbangan dalam mengelola keuangan perusahaan. Maskapai disebut mampu mengelola uang tunai dan jalur kredit yang belum dimanfaatkan.

Maskapai AS telah menerima bantuan keuangan yang cukup besar dari pemerintah federal, tetapi uang itu diharuskan untuk membayar gaji staf. Jadi, bagian terbesar dari pinjaman dan uang tunai lainnya yang terkumpul, berasal dari bank dan Wall Street.

Selain itu, maskapai juga telah menjual obligasi, meminjam uang, menggadaikan pesawat mereka, program frequent flyer dan aset lainnya. Bahkan telah menjual saham tambahan, sebuah langkah yang sangat tidak biasa untuk sebuah industri dalam posisi ini.

Pinjaman yang dilakukan maskapai telah menambah US$ 40 miliar utang jangka panjang maskapai AS. Selain utang, maskapai juga melakukan pemotongan biaya besar-besaran, bahkan dengan bantuan pemerintah yang mencegah mereka melakukan PHK.

Tahun ini maskapai AS berencana memangkas 16% pekerjanya. Bahkan beberapa pekan terakhir, American dan United mengumumkan akan mem-PHK 27.000 karyawan. Maskapai menegaskan hal itu bisa dicegah jika bantuan penggajian yang berakhir Maret 2021 diperpanjang.

Sebelumnya ribuah karyawan telah dirumahkan pada Oktober 2020 saat bantuan gaji putaran pertama berakhir. Namun, saat bantuan putaran kedua diluncurkan ribuan karyawan maskapai ditarik kembali untuk bekerja.

Minggu lalu, serikat pekerja maskapai penerbangan AS kembali ke Capitol Hill untuk memohon bantuan lain agar anggotanya tetap bekerja.

Akibat pandemi, maskapai AS telah merugi. Southwest saja mencatat kerugian tahunan pertamanya sejak 1973 begitupun maskapai besar lainnya. Posisi kas industri penerbangan saat ini menimbulkan harapan dapat menghindari keterpurukan. Tetapi itu tergantung kapan perjalanan udara akan kembali.

(fdl/fdl)