Harga Kedelai Naik Gila-gilaan, Pedagang Tahu-Tempe Minta Subsidi

Achmad Syauqi - detikFinance
Senin, 08 Feb 2021 14:57 WIB
Para perajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo) mendapatkan jatah impor kedelai sebesar 125.000 ton di 2013. Jumlah ini jauh lebih besar dari perhitungan awal yang hanya diberikan 20.000 ton. (Foto: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rengga Sancaya
Klaten -

Harga kedelai impor untuk bahan baku tempe dan tahu di Jawa Tengah terus melambung. Pusat Koperasi Tahu Tempe (Puskopti) Jawa Tengah mencatat harga di eceran semua sekitar Rp 6.000 terus naik sudah sampai Rp 10.000 per kilogram.

"Kondisi perajin tahu tempe saat ini semua mengeluh karena harga kedelai sudah tidak terkendali lagi. Pada hari ini harga eceran sudah sampai Rp 10.000 per kilogram," ungkap Ketua Puskopti Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro pada wartawan di sela kegiatan Operasi Pasar Kedelai Rp 8.500 di kantor Primpkopti Klaten, Desa Kalangan, Kecamatan Pedan, Senin (8/2/2021) siang.

Sutrisno menjelaskan perajin tempe tahu saat ini dihadapkan dua persoalan rumit antara pandemi COVID dan mahalnya harga kedelai. Pengurus Puskopti khawatir kondisi akan memburuk sehingga perlu segera ada solusi.

"Kami pengurus wajib mencarikan solusi di antaranya ini (operasi pasar). Kami mengusulkan pemerintah segera melakukan swasembada kedelai," lanjut Sutrisno.

Selain mendesak ada swasembada, sambung Sutrisno, Puskopti meminta pemerintah menyiapkan subsidi harga ke perajin. Sebab operasi pasar dengan bantuan importir itu tidak akan bisa selamanya.

"Kami meminta pemerintah menyiapkan subsidi harga sebab OP tidak bisa seterusnya importir support. Paling tiga bulan sehingga setelah itu akan berdampak pada perajin, oleh karena itu pemerintah harus mensubsidi," tegas Sutrisno.

Lebih lanjut dikatakan Sutrisno, tahun 2008 pemerintah pernah memberikan subsidi harga kedelai ke perajin Rp 1.000 per kilogram. Untuk tahun ini diharapkan subsidi Rp 2.500.

"Dengan subsidi Rp 2.500 akan sangat menolong, sementara ini kita apresiasi pada importir yang membantu dengan Operasi Pasar yang sudah mencapai 424 ton di Jawa Tengah. Kami sudah melapor ke Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) pusat untuk menulis surat ke presiden," papar Sutrisno.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, Agus Wariyanto mengatakan jumlah kedelai yang sudah disalurkan melalui operasi pasar mencapai 424 ton. Jumlah itu untuk 10 kabupaten.

"Sudah tersalurkan 424 ton untuk 10 kabupaten dan kita harapkan berlanjut. Kami sambut baik asosiasi importir yang sudah peduli sehingga meringankan beban perajin," kata Agus pada detikcom.

Agus menjelaskan dengan 424 ton itu jelas belum bisa menstabilkan harga. Tetapi paling tidak bisa membantu.

"Untuk menstabilkan harga saya kira belum signifikan tapi paling tidak sudah membantu.
Apalagi produksi kedelai nasional tidak mampu menutupi kebutuhan karena kedelai nasional hanya menutup 10 persen dan 90 persen harus didatangkan dari negara lain," lanjut Agus.

Ketua Primkopti Klaten, Sudiro mengatakan harga kedelai pada bulan Desember 2020 masih kisaran Rp 6.000 per kilogram terus naik memukul perajin. Di tingkat pemasok kini sudah Rp 9.750 per kilogram dan eceran Rp 10.000.

"Harga sudah Rp 9.750 di pemasok dan eceran Rp 10.000 ini menyulitkan karena perlu tambahan modal. Perajin juga terpaksa mengurangi ukuran," kata Sudiro pada detikcom.

Pantauan detikcom di lokasi, operasi pasar pukul 11.00 WIB diikuti puluhan perajin, dihadiri pengurus Kopti, Puskopti Jawa Tengah, dan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Pemkab Klaten. Perajin langsung melakukan transaksi dan membawa pulang kedelai dari lokasi.

(hns/hns)