Begini Jurus BUMN Karya Ambil Peluang di Tengah Pandemi

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 12 Feb 2021 14:37 WIB
Suasana proyek pembangunan Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek lintas pelayanan II Cawang-Kuningan-Dukuh Atas di Jakarta, Minggu (19/4/2020). Progres pengerjaan konstruksi proyek Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek per 20 Maret 2020 sudah mencapai 70,9 persen. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jakarta -

Pandemi virus Corona memukul banyak sektor industri dalam negeri, tak terkecuali jasa konstruksi. Sektor jasa konstruksi adalah salah satu segmen industri yang paling merasakan dampak buruk dari adanya pandemi ini.

Pemerintah sendiri mengalokasikan anggaran hampir Rp 150 triliun untuk pembangunan infrastruktur di Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Alokasi anggaran ini jadi angin segar bagi pelaku usaha disektor jasa konstruksi infrastruktur termasuk bagi PT Amarta Karya (Persero).

Direktur Utama Amarta Karya, Nikolas Agung SR menilai keputusan alokasi anggaran tersebut merupakan peluang yang sangat baik bagi perseroan dan merupakan momen yang pas untuk mulai bangkit kembali.

"Suatu kesempatan yang sangat baik untuk kami mulai bangkit dan tidak akan kami sia-siakan," kata Nikolas dalam keterangannya seperti ditulis Jumat (12/2/2021).

Namun demikian, melihat kondisi perseroan di masa lalu, tentunya bukan hal yang mudah bagi untuk dapat menangkap dan menkonversi peluang besar tersebut menjadi keuntungan bagi perusahaan. "Dengan mempertimbangkan segala keterbatasan perseroan di masa lalu, maka diperlukan strategi bisnis yang inovatif dan efektif untuk memaksimalkan peluang tersebut," ucap Nikolas.

Dalam hal ini Nikolas menyampaikan bahwa kemitraan strategis (Strategic Partnership) dengan berbagai pihak terkait merupakan salah satu strategi kunci yang akan dilakukan perseroan untuk dapat menangkap dan mengkonversi peluang yang ada tersebut.

Lebih lanjut Nikolas menjelaskan bahwa setidaknya ada 5 pihak yang menjadi bagian dari strategic partnership yang akan dijalankan oleh perseroan, yaitu kemitraan dengan Technology Provider & Manufacturers, Suppliers & Subkontraktor, Other EPC Companies, dan Financial Institutions dan Investors, dan bahkan kemitraan strategis dengan pelanggan.

Nikolas juga menyampaikan bahwa kondisi lingkungan bisnis yang ada saat ini memaksa perseroan untuk bertransformasi. "Selama ini kehidupan perseroan bergantung dari tender ke tender, dengan berbagai keterbatasan di aspek komersial maupun aspek teknis, maka kemampuan perseroan untuk menangkap peluang bisnis pun menjadi terbatas," katanya.

Menurutnya, kemitraan strategis yang tepat, diharapkan dapat mengatasi berbagai keterbatasan yang ada. Dalam rangka membangkitkan Amarta Karya, rencana Nikolas adalah dengan melakukan kemitraan strategis dengan pelanggannya.

"Amarta karya perlu lebih dekat dengan pelanggannya. Bukan hanya sebagai vendor bagi pelanggan, namun menjadi mitra problem solver bagi pelanggannya. Strategi ini kami sebut dengan project creation strategy. Hingga saat ini, ada beberapa proyek yang sedang digarap dengan strategi project creation tersebut," imbuh Nikolas.

Nikolas mengungkapkan, bahwa saat ini PT Amarta Karya (Persero) memiliki 4 lini bisnis utama yaitu jasa konstruksi gedung, jasa konstruksi infrastruktur, EPC, dan manufaktur (fabrikasi).

"Kami memiliki strategi dalam mengibarkan bendera perseroan lebih tinggi di empat line bisnis utama kami, salah satu nya adalah dengan kita mencreate bisnis baru yang bisa memperkuat 4 bisnis utama tersebut dan dapat menghasilkan recurring income untuk membantu menyeimbangkan portfolio revenue perusahaan sehingga operasi perusahaan bisa menjadi lebih stabil dan sustain kedepannya" bebernya.

(fdl/zlf)