Jarak Si Miskin dan Si Kaya Kian Lebar

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 15 Feb 2021 15:34 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan dan ketimpangan teranyar. Angka kemiskinan bertambah, dan tingkat ketimpangan (gini ratio) bergerak stagnan.
Ilustrasi/Foto: dok detikfoto
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengeluaran orang Indonesia yang diukur oleh gini ratio melebar menjadi 0,385 di September 2020. Angka ini meningkat 0,004 poin jika dibandingkan pada Maret tahun lalu yang berada di posisi 0,381.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, tingkat ketimpangan pengeluaran orang Indonesia ini meningkat 0,005 poin jika dibandingkan dengan gini ratio per September 2019 yang sebesar 0,380.

"Untuk gini rasio, metodenya tidak berubah, tetapi seiring dengan naiknya tingkat kemiskinan maka gini rasio juga meningkat dari 0,380 menjadi 0,385," kata Suhariyanto dalam video conference, Senin (15/2/2021).

Suhariyanto menyatakan tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia berdasarkan provinsi berbeda-beda atau tidak bisa dipukul rata.

"Karena terjadi perilaku dari masyarakat 40% lapisan bawah, 40% lapisan menengah dan 20% lapisan atas berbeda-berbeda," jelasnya.

Otoritas statistik mengumumkan gini ratio di perkotaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,399 atau naik dibandingkan pada Maret 2020 yang sebesar 0,391 dan naik dibandingkan September 2019. Sedangkan gini ratio di perdesaan pada September 2020 tercatat 0,319 atau naik pula dibandingkan Maret dan September tahun lalu yang masing-masing sebesar 0,317 dan 0,315.

Berdasarkan laporan BPS, pandemi COVID-19 menjadi penyebab utama melebarnya tingkat ketimpangan pengeluaran orang Indonesia yang diukur oleh gini ratio. Secara nasional, sejak September 2014 angka gini ratio mengalami penurunan sampai dengan September 2019.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut terjadi perbaikan pemerataan pengeluaran di Indonesia. Namun demikian, akibat adanya pandemi COVID-19, nilai gini ratio kembali mengalami kenaikan pada Maret 2020 dan September 2030," tulis laporan BPS.

Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40% ter bawah dihitung berdasarkan kategori. Berdasarkan hitungan World Bank, distribusi pengeluaran pada kelompok 40% terbawah sebesar 17,93%. Dengan begitu, pengeluaran penduduk pada September 2020 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah.

Jika dirinci menurut wilayah, di perkotaan angkanya tercatat 17,08% yang berarti tergolong pada kategori rendah. Sementara di perdesaan pun sama masuk dalam kategori ketimpangan rendah karena angkanya tercatat 20,89%.

Adapun, tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40% terbawah memiliki angka di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12-17%, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17%.

Berdasarkan provinsi, gini ratio tertinggi tercatat di Yogyakarta sebesar 0,437. Sementara gini ratio terendah berada di Kepulauan Bangka Belitung, dengan gini ratio sebesar 0,257.

Jika dibandingkan dengan gini ratio nasional yang sebesar 0,385, terdapat tujuh provinsi dengan tingkat ketimpangan pengeluaran yang melebar besar, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta 0,437, Gorontalo 0,406, DKI Jakarta 0,400, Jawa Barat 0,398, Papua 0,395, Sulawesi Tenggara 0,388, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) 0,386.

(hek/eds)