ADVERTISEMENT

Juragan Telur Blitar Ini Sukses Ternak Ayam Petelur, Ini Kisahnya

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Selasa, 16 Feb 2021 12:03 WIB
Peternak ayam petelur asal Blitar Kurniawan Unggul Pambudi
Foto: Ari Saputra
Blitar -

Usaha perunggasan ayam petelur (layer) di Kabupaten Blitar memang sangat menggiurkan, tak heran banyak peternak rakyat hingga skala perusahaan di sana menggeluti bisnis turun temurun ini. Salah satunya, dirasakan oleh Kurniawan Unggul Pambudi, peternak milenial ayam layer asal Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Unggul yang kini berusia 30 tahun merupakan peternak generasi kedua, dia melanjutkan usaha peternakan ayahnya yang sudah dirintis dari puluhan tahun lalu. Hingga saat ini peternakannya memiliki 13.000 ekor ayam telur, dan terus memproduksi protein hewani rakyat Indonesia, khususnya Jawa Timur.

"Dulu saya karyawan dan background saya di ekonomi, jadi apapun yang bisa saya terapkan di sini ya saya terapkan terutama di bidang manajemen budidaya kandang. Sampai sekarang juga masih belajar supaya lebih baik dan lebih untung," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan modal usaha peternakan yang dirintis keluarganya ini menghabiskan ratusan juta. Rinciannya terdiri dari kandang per seribu ekor ayam Rp 50 juta, ayam horren impor per seribu ekor Rp 80 juta, sehingga total Rp 130 juta. Hal ini belum termasuk lahan dan pakan yang setiap per seribu ekor ayam membutuhkan sekitar ratusan kilogram.

"Kami usaha ini mandiri tanpa ada hubungan dengan pihak lain. Untuk masalah pakan pun kami bisa produksi sendiri, kemudian untuk hasil budidaya yaitu telur juga kita bisa jual bebas tanpa melalui lembaga apapun," ungkapnya.

Unggul mengungkapkan di era pandemi seperti saat ini pihaknya harus melakukan penghematan agar untung yang didapat dari hasil ternak lebih banyak. Terlebih harga pakan yang tidak stabil. Pasalnya, pakan untuk 13.000 ekor ayam yang dimilikinya dapat menghabiskan Rp 300 juta per bulan.

"Karena harga pakan pasti naik dan penjualan telur juga belum cukup untuk sampai di BEP (break even point) di usaha ayam ini. Jadi perlu efisiensi di pakan dan pengobatan," terangnya.

Meski demikian, kabar baiknya pada tahun 2020 lalu ia mengungkapkan turut merasakan buah segar dari penjualan telur ayam ini. Hal itu ditopang oleh harga telur yang tinggi jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), yang menyentuh Rp 24.000/Kg. Berkat hal tersebut dia mencatat omzet double digit pada 2020.

"Sehari produksi untuk 13.000 ekor ayam bisa dapat 6-6,5 kwintal telur, sebulan hampir 20 ton," jelasnya.

Para pekerja menyortir telur sesuai kualitas sebelum dikemas dalam wadah di gudang Koperasi Peternak Unggas Sejahtera, di Kecamatan Ponggok, Blitar (2/2/2021). Telur dipisah menjadi 3 kategori utama yakni kulit telur dengan coklat, krem dan putih.Para pekerja menyortir telur sesuai kualitas sebelum dikemas dalam wadah di gudang Koperasi Peternak Unggas Sejahtera, di Kecamatan Ponggok, Blitar (2/2/2021). Telur dipisah menjadi 3 kategori utama yakni kulit telur dengan coklat, krem dan putih. Foto: Ari Saputra

Lebih lanjut, Unggul mengungkapkan untuk penjualan telur ayam nya sendiri masih dalam wilayah lokal yakni untuk Jawa Timur dan ke beberapa pemasok yang menjadi langganannya. Selain itu, untuk penjualan ke luar kota sesekali sebagian hasil produksinya dia supply ke Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar.

"Untuk penjualan saya masih di lokal, karena kalau keluar pulau harus ada izin dari Kementerian Pertanian Peternakan. Jadi kalau jual ke luar harus ada sertifikat izin itu, untuk menjelaskan telur ini sudah bebas dari apa-apa gitu," sebutnya.

Sebagai informasi, Unggul merupakan salah peternakan milenial yang tergabung dalam Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar. Adapun total produksi telur di Koperasi Putera Blitar yang terdiri dari 427 anggota mampu menghasilkan 200-250 ton per hari yang dikirim ke berbagai daerah di antaranya Jawa Timur, Jabodetabek, Tasikmalaya, hingga ke berbagai perusahaan lainnya.

Dalam meningkatkan penjualan budidaya telur ini, Unggul kini turut serta memanfaatkan aplikasi Pasar Mikro dari Bank BRI. Aplikasi ini, disebutnya, memudahkan peternak dalam melakukan transaksi penjualan telur langsung kepada pembeli tanpa melewati perantara transaksi (broker).

Pimpinan Cabang BRI Blitar Yulizar Verda Febrianto juga menyebut aplikasi Pasar Mikro itu mampu mengumpulkan peternak dan pembeli dalam satu wadah. Dari situ keduanya dapat melakukan bidding harga dengan proses yang lebih mudah dan mengurangi kekeosan di tengah.

"Aplikasi Pasar Mikro ini mampu memotong mata rantai yang panjang selama ini. Tujuan besarnya nanti adalah kita mampu menyediakan akses pembiayaan melalui aplikasi tersebut. Jadi misalnya saya sebagai pelaku usaha yang sudah bergabung di aplikasi tersebut, transaksi keuangan saya bisa tercermin di aplikasi tersebut dan ter-record," tandas Yulizar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus berita Jelajah UMKM di sini.



Simak Video "Gerabah Blitar Warisan Majapahit"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT