10 BUMN 'Sakit' Dirawat PPA, Bagaimana Kondisinya?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 16 Feb 2021 14:49 WIB
Logo baru Kementerian BUMN/Screenshot video
Foto: Logo baru Kementerian BUMN/Screenshot video
Jakarta -

PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) tengah melakukan restrukturisasi sejumlah BUMN. Hal ini sebagai bagian dari langkah perseroan menjalankan tugas dari pemegang saham di mana perusahaan telah menerima Surat Kuasa Khusus (SKK) dari Menteri BUMN.

Dikutip dari keterangan resmi perusahaan, Selasa (16/2/2021), melalui SKK tersebut PPA melakukan tindakan yang menjadi kewenangan pemegang saham terhadap 21 BUMN. Namun, pada keterangan tersebut hanya disebutkan 10 BUMN yang menjadi 'pasien' PPA.

Adapun BUMN tersebut yakni PT Kertas Kraft Aceh (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Industri Glas (Persero), PT Kertas Leces (Persero), PT Djakarta Lloyd (Persero), PT Indah Karya (Persero), PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), dan PT Barata Indonesia (Persero).

Kondisi perusahaan pelat merah tersebut sempat tercatat dalam pemberitaan detikcom. Bagaimana kondisinya? Berikut rinciannya:

1. PT Kertas Kraft Aceh (Persero)

Saat rapat dengan Komisi VI 20 Februari 2020 lalu, Menteri BUMN Erick Thohir menyebut ada sejumlah BUMN yang masuk dalam kategori dead weight alias 'sekarat'. Untuk perusahaan kategori ini, setidaknya ada dua opsi yakni ditutup atau merger.

Saat itu, Erick mengatakan, salah satu perusahaan yang masuk kategori dead weight yakni Kertas Kraft Aceh.

"Ini yang memang ketakutan kalau penghapusan ada kategori merugikan negara. Kertas Kraft Aceh ini juga sama. Hal-hal seperti ini yang saya tak mau terjebak," paparnya.

2. PT Istaka Karya (Persero)

Kabar terbaru, karyawan Istaka Karya akan dipindah sementara ke Nindya Karya. Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Nindya Karya (Persero) dengan PT Istaka Karya (Persero) tentang Penempatan karyawan Istaka Karya di Nindya Karya.

Nota kesepahaman tersebut berisi rencana kerjasama penempatan karyawan Istaka Karya di Nindya Karya selama satu tahun sesuai hasil assesment dan kebutuhan Nindya Karya. Dengan begitu, diharapkan beban karyawan akan pindah dari BUMN restrukturisasi yang idle kepada BUMN lainnya yang sedang tumbuh.

"Penempatan karyawan terampil yang saat ini idle pada BUMN restrukturisasi ke BUMN bertumbuh merupakan bagian dari program sinergi biaya yang kami jalankan. Serta juga merupakan strategi pool of talent dengan mengefektifkan karyawan terampil pada ekosistem BUMN. Hal ini merupakan peluang untuk karyawan terampil pada bidangnya untuk tetap dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya pada masa yang sulit ini," kata Direktur utama PPA Yadi Jaya Ruchandi dalam keterangannya, Rabu (10/2/2021)

3. PT Industri Glas (Persero)

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga pernah menyampaikan, banyak BUMN yang keberadaannya tidak berguna untuk publik. Bahkan, ada yang tidak ketahui kantornya seperti PT Industri Glas atau Iglas.

"Ada BUMN sudah nggak ada untungnya, abis itu nggak berguna untuk publik. Saya kasih contoh Merpati, sampai hari ini masih ada karena memang kita nggak bisa bubarkan. Sama halnya Iglas, itu tak tahu di mana kantornya," kata Arya melalui telekonferensi, Jumat (5/6/2020).

Arya menjelaskan, sebenarnya pihaknya ingin memangkas BUMN yang sudah tidak ada untungnya lagi. Namun Menteri BUMN Erick Thohir dinilai belum punya kewenangan untuk itu.

"Kita sepakat yang namanya BUMN sudah nggak sehat, nggak punya guna lagi untuk bangun bangsa ini harusnya memang dipotong. Makanya Bang Nasril (Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PAN) kasih kewenangan ke kami, ke Pak Menteri untuk membubarkan. Jadi menteri BUMN ini nggak bisa membubarkan ataupun menghapus BUMN-nya," ucapnya.

Saksikan juga 'Moeldoko Siap Fasilitasi Korban Jiwasraya Bertemu Kementerian BUMN':

[Gambas:Video 20detik]