Telur Jadi Primadona Blitar, Pengusaha Kue Kecipratan Untung

Angga Laraspati - detikFinance
Rabu, 17 Feb 2021 14:01 WIB
kue jajanan
Foto: Ari Saputra
Blitar -

Jadi Kabupaten dengan mayoritas masyarakatnya beternak ayam telur, menjadikan Blitar, Jawa Timur sebagai salah satu penghasil telur besar di Indonesia. Kabupaten ini menyumbang 30% pasokan telur di dalam skala nasional.

Dengan telur yang melimpah tersebut, tak ayal membuat produk turunan dari telur ikut kecipratan untung. Salah satunya adalah pengusaha kue kering dan basah, Heryati (42) yang memiliki dapur kue di rumahnya yang terletak di Desa Suruhwadang, Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Memulai usaha hanya dari iseng bantu-bantu teman, ternyata mantan karyawan di salah satu perusahaan multinasional ini lebih memilih untuk berusaha kue karena hasilnya lebih banyak dibandingkan dengan pekerjaan lamanya.

"Dulu awal mula saya bikin kue dari teman cuma bantu-bantu saja. Saking seringnya bantu saya jadi mau usaha sendiri. Sekarang ya lumayan lancar. Resepnya kadang dari kursus-kursus kadang juga dari teman-teman," ucap Heryati kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Ia mengatakan telur yang melimpah di daerahnya membuatnya dapat dengan mudah mendapatkan bahan baku. Tentunya ini menjadi keuntungan bagi dirinya, mengingat telur merupakan bahan baku utama dalam pembuatan kue.

"Saya biasa beli telur ya di sekitar Suruhwadang saja. Untuk pemesanan (telur) kadang tidak mesti ya tergantung pesanan. Kadang 2 tray kadang 1 tumpuk itu ada 10 tray. Kalau pesanan banyak ya 10 tray," ujarnya.

"1 tray itu kira-kira ada 2 kg. 1 kg kadang 16-18 telur dan untuk 1 gulung kue itu bisa pakai telurnya 10 butir," tambahnya.

Keuntungan lainnya yang ia dapatkan adalah harga telur yang murah karena dirinya langsung memesan ke peternak telur yang berada di sekitar rumahnya. Ini membuat modal untuk produksi dan juga pendapatan seimbang.

"Dengan banyaknya pengusaha telur efeknya membuat harga telur di Suruhwadang sini murah. Contoh di sini 1 tray harganya hanya 15.000 (biasanya harga telur mencapai Rp 20.000). Jika dibandingkan dari modal produksi dan pendapatan ya seimbang, dapat untung juga," imbuh Heryati.

Pesanan yang ia dapatkan pun sebenarnya tidak menentu, terkadang dirinya bisa mendapatkan pesanan 50 kue, bisa juga dirinya mendapatkan pesanan hingga 400-500 kue dalam satu hari.

"Penghasilan paling tinggi 1 hari bisa 1.000.000 tapi belum bersih. Tapi ya kadang tidak tentu. Kue yang paling laris adalah mendut, hampir setiap hari ada. Mendut itu kue yang dibungkus daun pisang dari ketan. Favorit kuenya ya ini," ungkapnya.

Dalam menggeluti usahanya ini, Heryati juga mengaku mendapatkan bantuan modal dari BRI dalam bentuk pinjaman KUR. Bermula dari pinjaman sebesar Rp 5 juta, kini dirinya sudah meminjam modal sebesar Rp 250 juta yang ia gunakan untuk membangun dapur produksi. Perbedaan pun sangat dirasakan oleh Heryati sebelum dan sesudah meminjam BRI

"Dulu tidak bisa beli alat-alat masak, setelah pinjam di BRI ya saya bisa membeli alat-alat produksi termasuk diesel (genset) di bawah ini juga karena pinjaman dari BRI. Usaha pembuatan kue dan usaha bengkel. Dari segi produksi juga semakin meningkat. Pemasukannya juga lebih banyak sekarang setelah meminjam ke BRI. Tapi untuk pemasukannya saya kurang tau ya berapa karena tidak ngitung dengan detail," pungkas Heryati.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/mpr)