2 Keuntungan untuk RI dari Perjanjian Dagang dengan Mozambik

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 18 Feb 2021 21:15 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Indonesia telah menjalin perjanjin dagang dengan Mozambik melalui Persetujuan Perdagangan Preferensial Indonesia-Mozambik (Indonesia Indonesia-Mozambique Preferential Trade Agreement/IM-PTA). Menurut Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, ada 2 keuntungan utama yang dapat diperoleh Indonesia dari perjanjian dagang tersebut.

1. Perluasan Pasar Ekspor

Keuntungan pertama adalah perluasan pasar. Jerry mengatakan, Mozambik bisa jadi pintu masuk bagi pasar produk Indonesia di kawasan Afrika bagi selatan dan tengah.

"Peluang pasarnya besar sekali. Bukan hanya di Mozambik itu sendiri, tetapi diharapkan akan meluas juga ke negara di sekitarnya. Jadi ini semacam pintu masuk. Jika memungkinkan kita bisa juga ke depan membuka perjanjian dengan negara sekitar Mozambik," kata Jerry dalam keterangan resminya, Kamis (18/20/2021).

Mozambik sendiri mempunyai penduduk sekitar 30,37 juta jiwa. Menurut Jerry, negara itu juga secara ekonomi terus berkembang didukung oleh kondisi politik yang relatif stabil.

Indonesia sendiri paling banyak mengekspor kelapa sawit, asam lemak, sabun dan kertas ke Mozambik. Oleh sebab itu, Jerry berharap dengan IM-PTA semakin banyak diversifikasi produk Indonesia ke Mozambik.

Salah satu yang disasar adalah produk farmasi, alas kaki, furniture, otomotif dan lain-lain. Untuk produk farmasi misalnya, Indonesia menikmati keuntungan bea masuk yang sebelumnya 40% menjadi 0%.

2. Mendapat Bahan Baku Industri

Jerry mengatakan, keuntungan keduanya adalah memperluas kemungkinan untuk mendapatkan bahan baku industri. Ia pun menargetkan pasokan kapas dari Mozambik.

Menurut Jerry, dengan memperoleh pasokan kapas dari Mozambik, maka Indonesia tak perlu bergantung pada negara-negara pemasok tradisional seperti China dan Amerika Serikat (AS).

Jerry menuturkan, negara-negara pemasok bahan baku alternatif ini juga merupakan bagian penting strategi perdagangan dan ekonomi Indonesia.

"Intinya kan dalam perdagangan perlu ada keseimbangan hubungan. Jangan sampai kita terlalu tergantung, baik dari segi pasar maupun pemasok bahan baku. Akan sangat baik jika dalam perdagangan internasional makin terbuka sehingga fair trade sebagai bagian dari free trade akan terwujud," tandasnya.

(vdl/zlf)