Ketahanan Pangan Indonesia Diklaim Semakin Baik, Ini Indikatornya

Nurcholis Maarif - detikFinance
Kamis, 18 Feb 2021 20:22 WIB
Kampung tematik Ciharashas, Harjamulya, Kota Bogor atau yang biasa dikenal Agro Edukasi Wisata Organik (AEWO) Mulyaharja, menyajiikan pemandangan hamparan sawah dan pegunungan nan instagramable. Nggak percaya? Tengok aja nih.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri menjelaskan berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI), secara keseluruhan status ketahanan pangan Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan. Tercatat tahun 2016 Indonesia masih berada di peringkat 71 dan tahun 2019 meningkat di peringkat 62.

"Kami memantau secara konsisten index (GFSI) tersebut. Angka ini naik karena dipengaruhi 3 aspek ketahanan pangan sebagai indikatornya," jelas Kuntoro dalam keterangan tertulis, Kamis (18/2/2021).

Menurutnya, nilai indeks keseluruhan pada data tersebut ditentukan dari tiga aspek, yaitu keterjangkauan, ketersediaan, serta kualitas dan keamanan. Aspek keterjangkauan dan ketersediaan untuk Indonesia meningkat cukup drastis sehingga menjadi aspek yang dominan mempengaruhi kenaikan nilai indeks secara keseluruhan.

"Hal tersebut tentu tidak terlepas dari upaya-upaya dilakukan pemerintah selama ini. Kementerian Pertanian selama ini terus berupaya membenahi pertanian dari hulu hingga hilir termasuk dalam hal distribusi dan ketersediaan pangan," jelas Kuntoro.

Dari sisi ketersediaan pangan misalnya, Kuntoro mengungkapkan upaya yang dilakukan pemerintah salah satunya dengan pembangunan program food estate untuk mempersiapkan pangan rakyat dalam skala ekonomi yang besar.

"Kemandirian pangan terus kita perjuangkan, agar kita mampu berdiri di atas pangan kita sendiri. Apalah artinya index bagus, pangan kita terlihat aman, namun punya ketergantungan pada impor," kata Kuntoro.

Kuntoro mencontohkan Singapura yang menempati index terbaik di dunia, namun hampir seluruh pangannya dipenuhi dari impor karena negara tersebut tidak memiliki lahan pertanian yang mencukupi. Sementara Indonesia memiliki potensi sumber daya pertanian yang cukup besar.

Ia mengatakan selama ini banyak lembaga internasional yang melahirkan berbagai pengukuran untuk melihat seberapa jauh tingkat perkembangan dari suatu negara terhadap permasalahan tertentu, salah satunya di bidang pangan. The Economist Intelligence Unit (EIU) bekerja sama dengan Barilla Center for Food & Nutrition juga mengeluarkan indeks keberlanjutan pangan (Food Sustainability Index atau FSI).

"FSI itu memiliki tiga indikator, pertama aspek pertanian berkelanjutan, kedua mengenai kehilangan atau susut pasca panen termasuk limbah, dan ketiga mengenai aspek gizi," terang Kuntoro.

Menurut Kuntoro FSI diharapkan mampu meningkatkan awareness pemerintah, institusi, dan masyarakat terhadap isu food sustainability dan memantau perkembangannya. Selain itu, proyek ini juga dibuat sebagai bentuk dukungan global terhadap target SDG 2030. Ia melanjutkan, ranking yang dibuat oleh FSI bukan dimaksudkan untuk judgemental, terlebih sebagai tolak ukur kinerja setiap negara dalam menghadapi tantangan sistem pangan global.

Kuntoro menegaskan selain isu produksi, aspek-aspek penilaian pada data FSI erat kaitannya dengan food loss dan food waste atau pangan yang terbuang dan pangan yang menjadi sampah.

"Salah satu indikator FSI adalah masih tingginya jumlah makanan yang terbuang, akibat perilaku mengambil makanan berlebihan dan terbuang. Kita harus berempati pada negara yang kesulitan mendapatkan sumber makanan," terang Kuntoro.

Situasi ketahanan pangan nasional yang mengalami peningkatan dan semakin kuat juga dapat terlihat dari data yang dikeluarkan Global Hunger Index (GHI) 2020. Kuntoro mengungkapkan Indonesia menempati level moderate dengan skor 19,1 setelah sebelumnya masih berada di level serius dengan skor 20,1 pada tahun 2019. Situasi yang sama juga dapat dilihat dari Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atals (FSVA).

"Berdasarkan data FSVA, jumlah kabupaten/kota yang rentan rawan pangan mengalami penurunan dari 76 kab/kota pada tahun 2019 menjadi 70 Kabupaten/Kota rentan rawan pangan di tahun 2020," tutup Kuntoro.

(prf/hns)