Debut di G7, Joe Biden Usung Isu Corona hingga China

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 19 Feb 2021 22:35 WIB
President Joe Biden speaks at the Pentagon, February 10, 2021, in Washington, DC. - Harris and Biden are visiting the Pentagon for the first time since taking office. (Photo by Alex Brandon / POOL / AFP)
Foto: AFP/ALEX BRANDON: Presiden AS Joe Biden
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Joe Biden memulai debutnya dalam pertemuan dengan para pemimpin G7. Pertemuan itu akan membahas rencana dan strategi untuk mengatasi virus Corona, membuka kembali ekonomi dunia yang terpukul, dan melawan tantangan yang ditimbulkan oleh China.

Joe Biden akan fokus pada tanggapan global terhadap pandemi, termasuk produksi vaksin, dan distribusi pasokannya. Dia juga akan melakukan upaya untuk melawan infeksi baru yang muncul.

"Presiden akan membahas pemulihan ekonomi global, termasuk pentingnya semua negara industri mempertahankan dukungan ekonomi untuk pemulihan dan pentingnya memperbaharui peran global untuk mengatasi tantangan ekonomi seperti yang ditimbulkan oleh China," kata juru bicara Gedung Putih Jen Psaki, dikutip dari Reuters, Jumat (19/2/2021)

Seruan dengan para pemimpin G7 pada 1400 GMT adalah kesempatan bagi Biden, seorang Demokrat yang mengambil alih sebagai presiden dari Partai Republik Donald Trump pada 20 Januari,

Selain Joe Biden, perdana menteri baru Italia, Mario Draghi, akan menjadi wajah baru di meja virtual para pemimpin, meskipun dia terkenal karena melakukan apa pun di Bank Sentral Eropa untuk menyelamatkan mata uang euro selama krisis utang Eropa.

Inggris, yang memegang kursi bergilir G7 dan mencoba untuk mengubah dirinya sebagai pengurus sistem internasional berbasis aturan setelah Brexit, akan meminta anggotanya untuk membantu mempercepat pengembangan vaksin masa depan hingga 100 hari.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson ingin membangun hubungan dengan Biden, yang tidak mendukung Brexit dan tahun lalu secara terbuka memperingatkan Inggris agar tidak membahayakan perdamaian di Irlandia.

Boris Johnson mengatakan dia tertarik dengan gagasan perjanjian global tentang pandemi untuk memastikan transparansi yang tepat setelah wabah COVID-19 makin meluas.

Pemerintahan Joe Biden akan menjanjikan US$ 4 miliar atau sekitar Rp 56 triliun (kurs Rp 14.000) untuk program vaksinasi virus Corona untuk negara-negara miskin.

Lalu Inggris, yang telah menjanjikan US$ 766 juta atau sekitar Rp 10,7 triliun untuk program COVAX yang dipimpin bersama oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Dalam pidato kebijakan luar negeri besar pertamanya sebagai presiden, Joe Biden menyebut China sebagai pesaing paling serius Amerika Serikat.

"Kami akan menghadapi pelanggaran ekonomi China, melawan tindakan agresif dan koersifnya, untuk mendorong kembali serangan China terhadap hak asasi manusia, kekayaan intelektual, dan pemerintahan global, "kata Biden.

Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan akan mempertahankan tarif yang dikenakan pada barang-barang China oleh administrasi Trump untuk saat ini, tetapi akan mengevaluasi bagaimana melanjutkannya setelah peninjauan menyeluru.

(hal/hns)