Demi Ringankan Utang Luar Negeri, Sudan Devaluasi Mata Uang

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 22 Feb 2021 10:50 WIB
Sudan Cabut Larangan Pindah Agama dan Hapus Sebutan Negara Islam dari Konstitusi
Ilustrasi/Foto: DW (News)
Jakarta -

Bank sentral Sudan mendevaluasi mata uang. Pihaknya mengumumkan rezim baru untuk 'menyatukan' nilai tukar resmi dan pasar gelap dalam upaya mengatasi krisis ekonomi yang melumpuhkan dan mengakses keringanan utang.

Perubahan tersebut merupakan reformasi pertama yang diminta oleh investor asing dan Dana Moneter Internasional (IMF), tetapi ditunda selama berbulan-bulan karena kekurangan kebutuhan pokok dan inflasi yang cepat mempersulit transisi politik.

Dilansir Reuters, Senin (22/2/2021), bank sentral menetapkan suku bunga indikatif pada 375 pound Sudan per dolar, dari tingkat resmi sebelumnya 55 pound Sudan berdasarkan beberapa sumber perbankan komersial. Baru-baru ini, dolar diperdagangkan antara 350 dan 400 pound Sudan di pasar gelap.

Bank sentral akan menetapkan tingkat indikatif harian. Bank dan biro pertukaran diharuskan untuk berdagang dalam 5% di atas atau di bawah kurs itu.

Sirkulasi tersebut juga menetapkan margin keuntungan antara harga beli dan jual tidak lebih dari 0,5%. Menteri Keuangan Jibril Ibrahim mengatakan dana asing yang tidak ditentukan sedang dalam proses dan bank sentral dapat melakukan intervensi jika diperlukan.

"Keputusan itu bukan float, tapi kebijakan manajemen yang fleksibel," kata Gubernur Bank Sentral, Mohamed al-Fatih Zainelabidine.

Langkah-langkah telah diambil untuk merampingkan impor komoditas dan membatasi impor barang-barang non-esensial menjelang devaluasi. Sedangkan nilai tukar bea cukai Sudan tidak termasuk dalam devaluasi dan reformasinya masih dalam studi.

Langkah itu diharapkan dapat meringankan utang luar negeri Sudan yang diperkirakan mencapai US$ 60 miliar atau setara Rp 840 triliun (kurs Rp 14.000), tetapi tertahan oleh ketidakpastian politik.

(aid/ara)