Menaker Ungkap Penyebab Banyak Penyandang Disabilitas yang Menganggur

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 24 Feb 2021 12:56 WIB
Sunyi House of Coffee and Hope diketahui mempekerjakan para penyandang disabilitas. Di sana mereka bekerja sebagai pembuat kopi hingga juru parkir.
Ilustrasi penyandang disabilitas (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengungkapkan masih banyak penyandang disabilitas yang menganggur. Total jumlah pengangguran terbuka penyandang disabilitas ada sebanyak 247.000 dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 3%.

"Sedangkan jumlah penyandang disabilitas yang bekerja sebanyak 7,57 juta orang dan jumlah pengangguran terbuka penyandang disabilitas sebesar 247 ribu orang dengan TPT sebesar 3%," ungkap Ida dalam acara Dialog Interaktif Ketenagakerjaan Inklusif dengan APINDO, Rabu (24/2/2021).

Lebih lanjut, Ida merinci, total penyandang disabilitas yang masuk usia kerja ada sebanyak 17,7 juta, sementara yang masuk dunia kerja sebanyak 7,8 juta orang. Hal ini berarti Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) penyandang disabilitas hanya 44%, jauh di bawah TPAK nasional sebanyak 69%.

"Kalau lihat angka ini rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas menunjukkan bahwa banyak penyandang disabilitas sudah terlebih dahulu mundur dan tidak berani masuk ke pasar kerja," katanya.

Adapun beberapa penyebab minimnya penyandang disabilitas yang masuk ke pasar kerja salah satunya karena terbatasnya ketersediaan lapangan kerja itu sendiri.

"Hal ini dipengaruhi oleh masih terbatasnya ketersediaan lapangan kerja, diskriminasi, dan kemungkinan terjadinya stigma bagi penyandang disabilitas di dunia kerja," tuturnya.

Ketersediaan lapangan kerja bagi penyandang disabilitas pun lebih banyak di sektor pelayanan ketimbang industri. Sebab, di sektor industri ini, aksesibilitas di lingkungan kerjanya masih begitu minim bagi para penyandang disabilitas itu sendiri.

"Lebih banyak di sektor pelayanan, jasa, dan ritel dibandingkan di sektor industri. Rendahnya partisipasi di sektor industri dipengaruhi oleh beberapa permasalahan seperti tidak tersedianya aksesibilitas di lingkungan kerja, ada kesenjangan sosial dan yang tidak kalah adalah karena pelatihan pendidikan yang tidak inklusif," paparnya.

(dna/dna)