Ngeri! Investasi Jabon Makan Korban 124 Ribu Orang dan Rugi Rp 378 M

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 25 Feb 2021 08:29 WIB
Kebun Pohon Jati Ciawitali di Dusun Kersikan, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
Ilustrasi Foto: Dadang Hermansyah/detikcom
Jakarta -

PT Global Media Nusantara (GMN) diduga telah melakukan penipuan kepada investor di bisnis investasi miliknya pohon jati kebon (jabon). Tak tanggung-tanggung, korbannya mencapai 124 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Secara nasional ya bisa jadi karena setiap daerah ada. Saya mewakili 14 orang dari 124 ribu orang seluruh Indonesia untuk melaporkan. Itu seluruh daerah dari Kalimantan, Sulawesi, bahkan TKW," kata Kuasa Hukum Korban Investasi Jabon, Mursalihin Ode Madi kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2021).

Belum diketahui pasti berapa total kerugian yang ditanggung para korban investasi jabon. Hanya saja perusahaan mengklaim sepihak bahwa dana yang dikelolanya itu Rp 378 miliar, sedangkan para korban yakin jumlahnya lebih dari itu.

"Kerugian yang dilaporkan perusahaan sendiri Rp 378 miliar. Tapi dari korban sendiri bisa lebih dari itu total kerugiannya karena mereka nggak mau diaudit," tuturnya.

Berikut 3 fakta investasi jabon:

1. Pakai Skema Ponzi

Salah satu korban asal Bandung, Achmad mengatakan investasi jabon ini menggunakan skema ponzi berkedok multi-level marketing (MLM). Para investor dituntut untuk mencari investor baru dengan keuntungan mendapat penghargaan.

"Iya skema MLM. Jadi ini harus cari (investor baru). Semua di sini punya member, nanti mendapat prestasi dari mencari investor," kata Achmad kepada detikcom.

Selain itu, banyak paket-paket menarik yang ditawarkan investasi jabon ini. Misalnya memborong 1 hektare (Ha) tanah sekaligus dengan harga Rp 242.500.000 dijanjikan akan ditanami 765 pohon ditambah dapat hadiah jalan-jalan ke luar negeri.

"Kita dituntut 'ayo bantu mitra kita supaya bisa panen, sukseskan hilirnya kamu beli ya'. Ngadain promo-promo sampai ke luar negeri buat orang-orang yang beli paket. Padahal mereka ke luar negeri itu secara tidak sadar pakai uangnya sendiri," ucapnya.

2. Dijanjikan Untung Besar

Korban dijanjikan untung besar dari hasil panen jabon yang katanya akan dilakukan 5 tahun sekali. Investor asal Kalimantan Timur misalnya, Sumaryono mengaku rugi Rp 700 juta sejak ikut investasi jabon pada 2016.

"Kerugian Rp 700 juta, itu belum imbal hasil. Janji panen 5 tahun, bulan Maret ini harusnya sudah tahun ke-5 dan saya bisa panen. Tapi yang diharapkan menginjak masa panen ternyata di luar harapan," ucapnya.

Tahun ini menjadi tahun kelimanya dan harusnya dia bisa mendapat imbal hasil panen sesuai yang dijanjikan yakni Rp 1,5 miliar. Namun harapan itu harus ditutup rapat-rapat karena GMN telah mengakui pihaknya gagal tanam.

"Kalau imbal hasilnya harusnya di tahun ini saya ambil hasilnya sekitar Rp 1,5 miliar. Sekarang kalau sudah begini ya gagal," imbuhnya.

Jadi skema investasi jabon menanam pohon jati dengan iming-iming panen setiap tahun hingga lima tahun sekali. Investor akan mendapat sertifikat kepemilikan pohon, satu pohon jati dihargai Rp 350.000 dan saat panen dijanjikan bisa Rp 1 juta per pohon dengan skema bagi hasil.

Ada juga paket berkelanjutan yang ditawarkan yakni pohon jati yang sudah panen disulap ke produk lain seperti meja-kursi, hingga jam tangan kayu.

Lihat juga Video: Waspada Investasi Saham Pompom

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2