Airlangga Sebut Program B30 Sejahterakan Petani Kelapa Sawit di RI

Inkana Putri - detikFinance
Jumat, 26 Feb 2021 19:59 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: dok. Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan Malaysia terkait kebijakan dan pengembangan Kelapa Sawit kedua negara. Kerja sama ini diresmikan dalam Pertemuan Tingkat Menteri Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) 2021 yang digelar daring hari ini.

Sebagai Ketua CPOPC, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan pemanfaatan lahan untuk sawit lebih efektif jika dibandingkan dengan tanaman minyak nabati lainnya.

"Secara keseluruhan, minyak sawit memasok 31% kebutuhan minyak nabati dunia dengan total penggunaan lahan yang hanya 5%," ujar Airlangga dalam keterangannya, Jumat (26/2/2021).

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2019, tercatat setiap produksi 1 ton minyak nabati, untuk bunga matahari diperlukan lahan seluas 1,43 hektare. Sementara itu, untuk memproduksi volume yang sama dari tanaman kedelai dibutuhkan lahan 2 hektare. Sedangkan untuk kelapa sawit hanya dibutuhkan lahan seluas 0,26 hektare.

Lebih lanjut Airlangga menyampaikan usai Indonesia menerapkan kebijakan mandatori B30, yaitu campuran biodiesel sebanyak 30% dalam bahan bakar minyak jenis solar mulai awal tahun 2020, produksi biodiesel nasional terus bertambah.

Melalui kebijakan ini, Indonesia juga berhasil menjaga kestabilan supply dan demand kelapa sawit secara global. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia mengajak Pemerintah Malaysia agar tetap menjaga keseimbangan ini sehingga harga sawit di pasar dunia tetap menguntungkan.

"Berkat harga yang relatif stabil, kebijakan ini juga turut membantu kesejahteraan petani kelapa sawit di Indonesia," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Indonesia juga mengapresiasi pembentukan Scientific Committee (Komite Sains) di bawah CPOPC. Adapun pembentuk Komite Sains ditujukan untuk menjawab kampanye negatif di berbagai negara terkait produk kelapa sawit melalui fakta atau narasi berbasis sains atau kajian ilmiah.

Terkait hal ini, Pemerintah Indonesia juga mengajak Pemerintah Malaysia untuk bersinergi membangun kesamaan pandangan dan kebijakan, khususnya dalam menghadapi diskriminasi atau kampanye negatif mengenai kelapa sawit.

"Kedua negara harus bekerjasama secara optimal untuk meningkatkan penerimaan produk sawit di pasar dunia. Sehingga pengembangan produk hilir sawit menjadi pilihan dengan memperhatikan peningkatan nilai tambah produk," pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara tersebut turut hadir Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Mohd Khairuddin Aman Razali, Menteri Pertanian dan Pengembangan Desa Kolombia, Rodolfo Enrique Zea Navarro, Menteri Pangan dan Pertanian Ghana Owusu Afriyie Akoto, Menteri Pertanian Honduras Mauricio Guevara Pinto dan Menteri Pertanian Papua New Guinea John Simon.

(akn/hns)