Jamu di Bantul Sudah Rambah Online, Bayar Pakai COD

Inkana Putri - detikFinance
Senin, 01 Mar 2021 20:35 WIB
Fryski (28) memetik bahan jamu di Desa Kiringan, Bantul, Selasa (16/2/2021).
Foto: Rifkianto Nugroho
Bantul -

Di tengah modernitas, jamu masih jadi salah satu minuman tradisional yang eksis di kalangan masyarakat Indonesia. Terbukti hingga saat ini, penjualan jamu sudah merambah ke ranah online.

Salah seorang milenial asal Bantul, Rizky Purnamasari (27) bercerita sejak pandemi, dirinya pun mulai memasarkan jamu buatannya secara online. Terlebih saat ini jamu di lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Kiringan, Canden, Jetis belum banyak yang dijual secara online.

Rizky mengatakan awalnya ia hanya berjualan jamu ke teman-teman atau tetangga terdekatnya saja. Namun, ternyata jamunya mendapat antusias lebih dari pelanggannya hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjualan online.

"Pas awalnya itu belum berpikir untuk (jualan online), tapi kadang temen itu ada yang chat lewat WhatsApp pesen jamu. Dari situ saya pikir untuk mulai jualan online dan Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan," ujar Rizky kepada detikcom baru-baru ini.

Soal bisnis online, ia menyebut dirinya saat ini hanya berjualan jamu instan saja karena dapat disimpan lebih lama dibandingkan dengan jamu cair biasa. Adapun jenis jamu yang ia jual online cukup lengkap mulai dari wedang uwuh hingga beras kencur instan.

"Untuk jamu yang dijual online itu ada wedang uwuh, wedang seroja, instan jahe merah, instan kunir asem, beras kencur dan masih banyak lagi," kata Rizky.

"Yang paling laris itu wedang uwuh. Tapi kalau yang paling laris selain wedang uwuh itu pernah ada yang beli wedang seroja sama instant jahe," imbuhnya.

Dalam berjualan online, Rizky mengaku lebih senang mengirim pesanan jamu pelanggannya dengan sistem Cash on Delivery (COD) dibandingkan dengan ekspedisi. Pasalnya, hal ini dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap produk dan pelayanannya.

"Lebih merasa puas aja kita yang nganterin sendiri. Dia kan udah percaya sama kita. Kita juga harus melayani. Ada rasa kepuasan tersendiri," jelasnya.

"Dari segi waktu sama tenaga itu memang dari penjual mesti waktunya kurang. Tapi kalau dari rasa itu bikin pembeli percaya itu. Nanti kadang mereka tanya tentang jamu," tambahnya.

Fryski (28) memetik bahan jamu di Desa Kiringan, Bantul, Selasa (16/2/2021).Jamu di Bantul Sudah Rambah Online, Bayar Pakai COD Foto: Rifkianto Nugroho

Selama berjualan jamu dengan sistem COD, Rizky menyebut dirinya juga dibantu oleh orang tuanya. Pasalnya, Rizky yang juga bekerja sebagai tenaga kesehatan di Bantul ini terkadang tak memiliki cukup waktu untuk mengantarkan pesanannya.

"Dari buka online itu kita sistemnya memang COD. Inginnya kita memang COD. Kalau nanti waktunya nggak kebagi sama saya, nanti Mama atau Bapak. Atau nanti sekalian berangkat kerja atau pas ke mana. Janjian dulu. Tapi alhamdulillah konsumennya waktunya kalau sekalian berangkat kerja mau," paparnya.

Meskipun demikian, saat ini Rizky masih membatasi wilayah pengantaran untuk sistem COD. Sejauh ini untuk beberapa pesanan di luar Yogya dirinya tetap mengandalkan pengiriman melalui ekspedisi.

"Kalau COD itu Pajangan, terus Sewon. Ya daerah Yogya, Bantul gitu," jelasnya.

Merambahnya penjualan jamu secara online di Bantul ternyata tak hanya diminati oleh para penjual jamu. Salah seorang pembeli jamu, Diah juga mengaku senang karena saat ini di daerahnya jamu sudah bisa dipesan online dan bayar COD.

"Kalau COD lebih fleksibel di waktu. Aku bisanya kapan itu nanti menyesuaikan juga sama penjualnya. Jadi kalau lewat kurir gitu kan takutnya pas aku lagi nggak di rumah gitu nanti sedikit repot kalau mau bayar. Jadi lebih enak COD," ungkapnya.

Senada dengan Diah, Tiara juga mengaku lebih senang beli jamu secara COD. Selain lebih efisien, COD juga menguntungkan pembeli karena bisa mengecek terlebih dahulu barang yang dikirim.

"Menurut saya kalau COD itu lebih efisien dari segi finansialnya juga. Kalau COD kan paling cuma bensin aja soalnya kan deket. (Bisa) kita cek dulu juga, oh barangnya baik gitu kalau COD," paparnya.

Fryski (28) memetik bahan jamu di Desa Kiringan, Bantul, Selasa (16/2/2021).Jamu di Bantul Sudah Rambah Online, Bayar Pakai COD Foto: Rifkianto Nugroho

Berjualan jamu online memang mendatangkan banyak keuntungan. Bahkan, Rizky mengatakan dirinya pernah mendapatkan orderan hingga Rp 1.000 pcs wedang uwuh.

"Pernah ada yang pesan 1.000 pcs waktu itu di kirim masih di Pulau Jawa. Pernah juga kirim ke Kalimantan, tapi paling banyak ke Jakarta. Waktu itu (omzet) juga pernah sampai Rp 1 juta per hari," ungkapnya.

Dalam memulai bisnis jamu, Rizky menjelaskan modal awal dirinya berjualan jamu yakni Rp 5 juta. Namun seiring perkembangan bisnisnya, Rizky meminjam modal usaha Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp 10 juta.

"Alhamdulillah sangat terbantu karena adanya BRI karena bisa untuk pembuatan dan penjualan jamu. Pernah minjem di BRI untuk modal usaha itu sekitar Juni 2020," katanya.

"Untuk awal dulu pinjem itu Rp 10 juta, dipakai kebanyakan untuk modal. Paling Rp 1-2 juta itu untuk disimpan," paparnya.

Dari modal tersebut, Rizky mengatakan usaha jamunya masih berjalan dan lancar. Bahkan, kini usaha jamunya juga sudah merambah ke platform online lainnya seperti Instagram dan Facebook.

"Minjem di BRI itu karena untuk modal usaha yang saya jalani dan saya yakin usaha saya akan diberikan jalan. Dan selama ini Alhamdulillah lancar dalam membayarnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Dari Rancabali sampai Pengalengan, untuk Kopi dan Strawberry."
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)