Nestapa Sektor Paling Babak Belur Selama Setahun COVID-19

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 08:00 WIB
Pekerja membersihkan ruangan dan kamar di Hotel Aston Pasteur, Bandung, Jawa Barat, Senin (28/9/2020). Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat mencatat tingkat penghunian kamar hotel menurun menjelang akhir September 2020 sekitar 15 persen dibanding bulan Agustus 2020 yang mencapai 22 - 27 persen akibat kurangnya kunjungan wisatawan menyusul pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/hp.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Jakarta -

Hari ini, Selasa (2/3), tepat setahun sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengonfirmasi kasus COVID-19 pertama masuk Indonesia. Dampaknya terasa hingga ke sisi ekonomi, di mana hingga kini kondisinya juga belum pulih total.

Masih banyak sektor-sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi RI yang berjuang untuk bangkit dari keterpurukan usai dihantam pandemi. Adapun sektor yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19 adalah sektor pariwisata seperti bisnis perhotelan hingga transportasi.

"Ada sektor yang alami resesi semakin dalam misalnya bisnis perhotelan dan transportasi. Bukti hotel dijual murah karena pemilik tidak sanggup lagi menanggung biaya operasional ditengah okupansi kamar yang rendah jadi fenomena di seluruh daerah," ujar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira kepada detikcom, Selasa (2/3/2021).

Diperkirakan sektor ini paling lama pulih dari pandemi COVID-19.

"Sektor pariwisata diperkirakan jadi sektor paling akhir yang pulih," tambahnya.

Untuk diketahui, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata tanah air masih dalam kondisi terpuruk dan belum bisa bangkit dari gempuran pandemi COVID-19. Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tercatat hanya 141,3 ribu di Januari 2021. Artinya telah terjadi penurunan 13,90% dibandingkan Desember 2020 dan turun lebih dalam yaitu 89,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Minimnya wisman yang berkunjung ke Indonesia pun berdampak pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang. Di mana pada Januari 2021, tercatat di level 30,35 atau turun 10,44 poin dibandingkan bulan Desember 2020 dan turun 18,82 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain sektor pariwisata, sektor makanan dan minuman (mamin) juga terdampak cukup parah.

"Penyedia akomodasi, makanan dan minuman serta transportasi karena dengan PSBB yang telah dijalankan pemerintah, sektor ini akhirnya harus menyesuaikan dalam menjalankan usaha. Maka tidak heran, kedua sektor ini merupakan dua di antara sektor yang mengalami kontraksi pertumbuhan cukup dalam, akomodasi, makanan dan minuman secara tahunan terkontraksi -10,22%, sementara transportasi mengalami kontraksi hingga -15%," tutur Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet.

Sektor-sektor itu bukan hanya pulih paling lambat namun juga sulit pulih secara optimal selama masih ada pandemi COVID-19.

"Yang pasti kedua sektor ini, ataupun sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata sulit pulih secara optimal ketika pandemi COVID-19 belum tertangani secara baik. Mau tidak mau mereka harus menyesuaikan usaha dengan protokoler kesehatan yang ketat," imbuhnya.

Simak video 'Kilas Balik Setahun Covid-19 di Tanah Air':

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)