Bisnis Rumah 'Ant Man' Terpuruk Dihantam Corona

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 28 Feb 2021 09:37 WIB
Miniatur rumah
Foto: Dok: Prabu Pratama
Jakarta -

Bisnis pembuat miniatur/maket rumah dihantam dampak pandemi virus Corona (COVID-19). Hampir 1 tahun pandemi menghadang, jumlah pesanan maket yang diterima bisa dihitung jari.

"Pandemi 1 tahun ini saya baru dapat 2 pesanan, itu juga nilainya jauh dari yang biasa saya ambil. Saya biasa kerjakan pesanan paling murah Rp 8-9 juta, ada juga sampai puluhan dan ratusan juta. Nah yang kemarin itu cuma Rp 600 ribu dan Rp 700 ribu," kata Ronny, pemilik usaha maket Prabu Pratama ketika ditemui detikcom di kediamannya, Jakarta, Kamis (25/2/2021).

Padahal, sebelum pandemi pria berusia 39 tahun itu dapat menerima rata-rata 6 pesanan miniatur rumah yang lebih mirip rumah untuk Ant Man --tokoh fiksi pahlawan Marvel Comics yang bisa mengecil sekecil semut-- ini. Misalnya saja untuk 1 proyek maket Rp 20 juta, ia bisa mengantongi keuntungan 60% atau sekitar Rp 12 juta.

"Untung itu bisa 60%, 40% itu sudah termasuk biaya untuk gaji tim, ongkos, transport, uang makan, belanja, semua operasional sudah tertutup. Jadi 60% murni untungnya. Nah keuntungannya saya putar lagi buat beli tools. Jadi saya tambah tools, mencicil-lah. Jadi tools saya sudah terkumpul. Tapi karena pandemi ada juga yang dijual untuk bertahan hidup," terang Ronny.

Senasib dengan Ronny, pemilik usaha maket Famous Studio Maket Jakarta Joglo Musanu Fadin (46) juga terdampak pandemi. Pemasukan yang diperolehnya dari pesanan yang sangat sedikit bahkan tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

"Jadi simpanan juga habis. Karena yang selama ini saya jalanin nggak sesuai, otomatis ambil dari kantong, dan lama-kelamaan tipis juga. Dan orang kerja kan kasihan, dia harus mengirim ke kampung, kerjaan juga terkadang selesai malah nggak diambil-ambil. Otomatis kan tagihannya nggak full," terang Musanu.

Adapun penyebab pesanan maket miniatur atau diorama ialah perekonomian masyarakat yang memang menurun akibat pandemi. Oleh sebab itulah masyarakat menahan konsumsinya.

Di sisi lain, tak adanya pameran properti selama pandemi menyebabkan para perajin maket yang biasa menyiapkan miniatur untuk pemasaran properti menjadi sepi pesanan.

"Ya otomatis terdampak dari tidak adanya pameran properti, karena mereka kan pesan untuk jualan. Kecuali mereka untuk bangun-bangun apartemen, kantor, masih bisa," ungkap Musanu.

Hal itu juga dinyatakan oleh Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida. Saat ini, para pengembang atau developer lebih menggencarkan pameran online.

"Ya kita mau tidak mau menyesuaikan dengan pandemi COVID-19, kita lebih ke arah online. Pameran offline belum, pameran online rutin," kata Paulus kepada detikcom.

Meski begitu, selain menerima pesanan maket untuk show unit properti, Musanu juga menerima pesanan maket dari proyek-proyek pemerintah.

Kembali ke Ronny, ia tak hanya menerima pesanan maket miniatur dari para pengembang rumah, tapi juga tugas akhir mahasiswa aristektur atau desain interior, membuat dummy tubuh manusia untuk mahasiswa biologi, dan membuat diorama untuk museum.

(vdl/zlf)