Pandemi Belum Berakhir, Begini Proyeksi Bisnis Zoom Tahun Ini

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 09:50 WIB
Aplikasi video conference Zoom mengakuisisi Keybase untuk meningkatkan keamanan terenkripsi secara end-to-end
Ilustrasi/Foto: Zoom
Jakarta -

Bos perusahaan layanan obrolan video telepon Zoom, Eric Yuan memprediksi penjualan perusahaan akan meningkat 40% dengan mencapai US$ 3,7 miliar setara Rp 52 triliun (kurs Rp 14.240).

Mengutip dari BBC, Selasa (2/3/2021) perkiraan itu mendorong saham perusahaan naik lebih dari 6% dalam perdagangan setelah jam kerja di New York. Meski Yuan tak berharap pertumbuhan perusahaan sama dengan tahun lalu, tetapi dia optimistis bisnisnya masih tetap kuat.

Penjualan perusahaan dalam tiga bulan terakhir tahun 2020 naik 370% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019, mencapai US$ 882,5 juta.

"Kuartal keempat menandai akhir yang kuat untuk tahun yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk Zoom. Saat dunia keluar dari pandemi, pekerjaan kami baru saja dimulai," ujar Yuan.

Pandemi COVID-19 mendadak menggeser sistem bekerja jarak jauh untuk banyak bisnis di seluruh dunia. Zoom menjadi singgasana yang praktis untuk memecahkan masalah komunikasi jarak jauh itu.

Zoom menjadi aplikasi yang menyediakan langganan gratis dan berbayar. Dalam langganan berbayar, penjualan perusahaan melonjak 326% menjadi US$ 2,6 miliar pada 2020. Keuntungan pun melonjak dari US$ 21,7 juta pada 2019 menjadi US$ 671,5 juta.

Analis Hargreaves Lansdown, Susannah Streeter mengatakan nasib Zoom akan bergantung bagaimana perusahaan berhasil bersaing dengan perusahaan seperti Microsoft dan Google, yang telah memperkenalkan fitur serupa.

"Meskipun ia mencuri perhatian pemain lain dalam beberapa bulan pertama krisis, sekarang ia memiliki persaingan yang jauh lebih ketat seperti Microsoft dan Google yang telah meningkatkan teknologi mereka secara signifikan," katanya.

(eds/eds)