Kisah Inspiratif

Jalan Panjang Eric Yuan Temukan Zoom hingga Jadi Miliarder Dadakan

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 09 Feb 2021 08:00 WIB
a
Foto: istimewa
Jakarta -

Dalam setiap krisis pasti ada peluang, demikian kutipan terkenal dari seorang ilmuan, Albert Einstein. Hal itu ternyata benar-benar terjadi di kehidupan kita. Salah satunya dialami oleh CEO dan pendiri Zoom Eric Yuan.

Selama pandemi, jutaan orang begitu bergantung pada konferensi atau pertemuan virtual. Aplikasi Zoom pun jadi salah satu yang paling banyak dipakai. Berkat pandemi COVID-19, Zoom berhasil menarik hampir 105.000 pelanggan baru pada kuartal II-2020 lalu. Jumlahnya mungkin terlihat kecil, tetapi hal itu menghasilkan 81% dari pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi tersebut.

Saham Zoom Video Communication meroket ke level tertinggi baru sepanjang masa pada awal September 2020 lalu. Menurut perkiraan Wall Street, pendapatan Zoom saat itu mencapai US$ 500,5 juta. Akan tetapi, menurut laporan Zoom, pada periode itu pendapatan perusahaan sudah naik 355% year on year (YoY) setara US$ 663,5 juta. Perusahaan melaporkan EPS (laba per saham) sebesar US$ 0,92, jauh di atas perkiraan Wall Street yang hanya US$ 0,45. Itu berarti Zoom telah berkinerja lebih dari 100% lebih baik dari ekspektasi analis pasar saham.

Hal ini tentu secara tidak langsung menguntungkan sang pendiri aplikasi tersebut. Pada periode perdagangan awal September 2020 lalu, Eric Yuan tercatat mampu menghasilkan kekayaan hingga US$ 6,6 miliar setara Rp 92,4 triliun ketika harga saham perusahaannya melonjak hingga 41% pada Selasa (2/9/2020), saat saham Zoom ditutup di level US$ 457,69.

Mengenal Sosok Eric Yuan

Dikutip dari The Coverage, Senin (8/2/2021), Eric Yuan, lahir pada 1970 di Tai'an, Provinsi Shandong, China. Kekayaan bersih Eric Yuan sekarang sekitar US$ 23 miliar setara Rp 322 triliun. Uang segitu cukup uang untuk membeli 500 juta barel minyak mentah.

Awal tahun 2020 lalu, Zoom hanya memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 19 miliar. Saat ini, nilai pasarnya mencapai US$ 129 miliar.

Orang tua Yuan adalah insinyur pertambangan dan dia biasa mengumpulkan sisa-sisa konstruksi untuk mendaur ulang tembaga menjadi uang tunai ketika dia di kelas 4. Sebagai putra insinyur geologi, ia memiliki gelar master di bidang teknik geologi dari Universitas Pertambangan dan Teknologi China di Beijing. Dia juga memiliki gelar di bidang matematika terapan dari Universitas Sains dan Teknologi Shandong.

Setelah bekerja selama 4 bulan di Jepang, Eric Yuan memutuskan untuk pindah ke Silicon Valley, California pada 1997. Rupanya, dia terinspirasi oleh pidato dari CEO Microsoft saat itu Bill Gates tentang masa depan Internet.

Pidato Gates menghidupkan kembali idenya pada tahun 1987 untuk mengembangkan perangkat lunak video conference agar bisa bertemu pacarnya, yang tinggal jauh sekitar 10 jam perjalanan dengan kereta.

Pengalaman itu membuat Eric Yuan berharap ada cara yang lebih baik untuk bisa bersama pacarnya tanpa perlu menempuh perjalanan yang begitu panjang dan menyedihkan.

Dalam sebuah wawancara, Yuan mengungkapkan betapa banyak waktunya terbuang dengan melamun selama menempuh perjalanan untuk bertemu pacarnya.

"Suatu hari, jika saya dapat memiliki perangkat pintar dan hanya dengan satu klik saya dapat berbicara dengan Anda (pacarnya), dapat melihat Anda. Kira-kira begitulah lamunan saya dan setiap hari saya memikirkannya," ungkap Eric.

Sebelum ia menginjakkan kakinya di Amerika untuk mewujudkan mimpinya, dia sudah diuji dengan tidak hanya satu, dua kali penolakan, akan tetapi delapan penolakan dari Amerika Serikat atas permohonan visanya.

"Saya terus mengajukan permohonan lagi dan lagi selama dua tahun dan akhirnya menerima visa saya pada percobaan kesembilan," ujar Eric.

Dia berusia 27 tahun, tepatnya pada Agustus 1997, dan akhirnya ia diizinkan tinggal di California. Bagaimana kehidupannya di AS hingga akhirnya berhasil menemukan Zoom? Klik halaman selanjutnya.