Sederet Sektor Terdampak Paling Parah Selama Setahun Corona

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 13:08 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono

Restoran

Ada beragam bisnis yang mencakup sektor ini. Adapun bisnis yang paling babak belur di sektor ini adalah restoran. Berdasarkan hasil survei PHRI Pusat pada September 2020 lalu terhadap 9.000 lebih restoran di Indonesia dengan 4.469 responden, ditemukan ada sekitar 1.033 restoran yang sudah tutup permanen gegara pandemi.

Kemudian, sejak Oktober 2020 sampai sekarang diperkirakan sekitar 125 hingga 150 restoran tutup permanen per bulan. Jika Jakarta saja menerapkan lockdown akhir pekan, makan ada sekitar 750 restoran lainnya yang ikut menyusul tutup permanen.

Bioskop

Bioskop bahkan sampai saat ini masih terpantau sepi. Melihat kondisi tersebut, menurut Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin menyampaikan butuh waktu yang cukup lama bagi bioskop untuk pulih dari pandemi COVID-19. Paling tidak butuh sekitar 5 tahun buat bioskop bisa mengembalikan pendapatannya seperti sebelum COVID-19.

Djonny menambahkan, meski telah diizinkan beroperasi kembali, bioskop belum mampu mengembalikan kondisinya seperti sebelum pandemi. Menurut Djonny, bioskop sampai sekarang masih sepi penonton sehingga omzet yang diraup pun tak seberapa, ditambah ada biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap bulannya, justru menempatkan bisnis ini masih dalam kondisi rugi.

Ada kenaikan paling hanya 10-19% dari omzet, namun itu masih terhitung rugi. Sebab, dalam sehari biasanya bioskop menghasilkan Rp 30 juta, sekarang cuma Rp 1,5-2 juta per hari.

Tapi, ada pengeluaran seperti listrik hingga Rp 70 juta, karyawan dan biaya operasional lainnya sampai Rp 150 juta per bulan,

"Omzet nggak nyampe segitu, jadi kita pada rugi, sudah rugi miliaran," ujar Djonny kepada detikcom, Kamis (7/1/2021).

Mal dan Ritel

Mal dan ritel paling terpuruk saat dikepung aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah membeberkan dampak PSBB terutama di Jakarta yang kembali diperketat dan resesi ekonomi akibat pandemi COVID-19, para peritel bisa merugi hingga Rp 200 triliun.

"Kalau angka, kami itu setahun sekitar Rp 400 triliun. Kalau pun hanya 50% ya omzetnya turun Rp 200 triliun, ya kerugiannya di situ. Tapi kan biayanya nggak bisa utuh," kata Budi dalam webinar yang bertema Dalam Keterpurukan Penyewa dan Pusat Perbelanjaan Menghadapi Resesi Ekonomi, Senin (28/9/2020).

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja pun mengatakan hal serupa. Menurutnya, dampak terhadap pengusaha mal saat ini akan lebih berat ketika awal pandemi. Pasalnya, ada ancaman resesi dan PSBB Jakarta yang diperketat kembali.

"Kalau pada saat PSBB pertama itu kan kondisi perekonomian masih belum dinyatakan resesi. Saat ini PSBB ketat plus resesi ekonomi. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya, dan saya rasa kita semua sudah tahu bahwa sejak Maret, berarti sudah 6 bulan lebih kondisi defisit terus, ditambah masuk resesi ekonomi, wah ini situasinya memang sangat berat," tutur Alphonzus.

Otomotif

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) sepanjang 2020 tercatat hanya 532.027 unit. Padahal, tahun 2019 penjualan mobil menyentuh angka lebih dari 1 juta unit.

Data Gaikindo mencatat, pada 2019 penjualan mobil secara wholesales mencapai 1.030.126 unit. Rata-rata per bulannya pabrikan otomotif yang terdaftar dalam anggota Gaikindo bisa menjual 80 ribu sampai 90 ribu unit.

Namun situasi 2020 sangat berbeda. Jika membandingkan dengan data 2019, penjualan mobil pada 2020 tercatat turun 48,35%.

Penjualan mobil di Indonesia pada 2020 mulai anjlok drastis pada April 2020. Saat itu, industri otomotif hanya mampu mengirim 7.868 unit mobil baru, padahal sebelumnya mampu menjual 80-90 ribu unit per bulan.

Angka penjualan terendah terjadi pada Mei 2020 dengan penjualan hanya 3.551 unit. Selepas itu, penjualan mobil terus bangkit. Desember 2020 menjadi puncak penjualan mobil selama pandemi dengan angka sebanyak 57.129 unit dan menutup tahun 2020 dengan total penjualan sebanyak 532.027 unit.

Halaman


Simak Video "Satgas: 85% Kematian Covid-19 di Indonesia Pengidap Komorbid"
[Gambas:Video 20detik]

(dna/dna)