Militer Myanmar Mau Kuras Rp 14 T di Bank Sentral, Eh Diblokir AS

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 05 Mar 2021 09:36 WIB
Kudeta Myanmar: Apa makna Revolusi 22222 yang diikuti ratusan ribu orang untuk menentang perebutan kekuasaan oleh militer
Ilustrasi/Foto: BBC World
Jakarta -

Penguasa militer Myanmar berusaha memindahkan dana sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 14,37 triliun (kurs Rp 14.362/US$) yang ditahan di Federal Reserve Bank of New York beberapa hari setelah merebut kekuasaan pada 1 Februari. Hal itu mendorong para pejabat Amerika Serikat (AS) untuk membekukan dana tersebut.

Berdasarkan sumber Reuters, Jumat (5/3/2021), transaksi pada 4 Februari atas nama Bank Sentral Myanmar pertama kali diblokir oleh pengamanan The Fed. Pejabat pemerintah AS kemudian berhenti menyetujui transfer sampai perintah eksekutif yang dikeluarkan Presiden Joe Biden untuk memblokirnya tanpa batas waktu.

Juru Bicara The Fed menolak berkomentar tentang pemegang rekening tertentu. Departemen Keuangan AS juga menolak berkomentar.

Upaya tersebut dilakukan setelah militer Myanmar melantik gubernur bank sentral baru dan menahan beberapa pejabat pemerintah selama kudeta. Saat ditelepon untuk dimintai komentar, Juru Bicara pemerintah militer Myanmar tidak menjawab dan pejabat di bank sentral juga tidak dapat dihubungi.

AS, Kanada, Uni Eropa (UE), dan Inggris telah mengeluarkan sanksi baru setelah kudeta dan tindakan keras militer yang mematikan para demonstran. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan sedikitnya 54 orang telah tewas sejak kudeta dan lebih dari 1.700 orang telah ditangkap, termasuk 29 wartawan.

Biden mengatakan pada 10 Februari bahwa AS mengambil langkah-langkah untuk mencegah para jenderal memiliki akses yang tidak semestinya ke US$ 1 miliar dana pemerintah Myanmar.

Simak video 'Myanmar Semakin Berdarah, Korban Tewas Terus Bertambah':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/eds)