Waduh! 159 BUMN Tersandung Kasus Korupsi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Sabtu, 06 Mar 2021 09:00 WIB
Logo baru Kementerian BUMN/Screenshot video
Foto: Logo baru Kementerian BUMN/Screenshot video
Jakarta -

Kasus korupsi banyak terjadi di BUMN. Hal tersebut berdasarkan laporan yang diterima Menteri BUMN Erick Thohir saat awal menjabat sebagai menteri.

Erick Thohir menerima laporan 159 BUMN terkait kasus korupsi. Sebanyak 53 orang ditetapkan menjadi tersangka.

Menurut Erick, hal itu terjadi karena belum terjadi ekosistem yang sehat. Maka itu, ekosistem yang sehat kini menjadi prioritas Kementerian BUMN.

"Yang tak kalah penting nomor D, ini kenapa saya ingetin rekan-rekan BUMN, bayangin pertama kali menjabat dapat laporan 159 BUMN kena kasus korupsi, 53 tersangka karena apa, bukan menciptakan ekosistem investasi yang sehat tapi berdasarkan project base," kata Erick dalam Rapat Kerja Nasional HIPMI 2021, Jumat (5/3/2021).

Selain itu, Erick juga menjadikan kerja sama sebagai salah satu prioritas. Sebab, selama ini BUMN disorot karena posisinya sebagai 'menara gading'.

"Yang selama ini dikritisi menara gading sekarang kita taruh ekosistem kerja sama tetapi sesuai dengan core bisnisnya BUMN tersebut dan partnership, supply chain harus sama-sama menguntungkan, ini jelas, selain ada teknologi dan lain-lain," terangnya.

Pada kesempatan itu, Erick mengaku berniat melakukan privatisasi atau swastanisasi BUMN dengan pendapatan di bawah Rp 50 miliar. Untuk melakukan hal tersebut, pihaknya akan duduk bersama dengan DPR dan BPK.

"Kita di BUMN sedang memikirkan tapi mesti duduk juga DPR, BPK, apa? BUMN yang revenue-nya Rp 50 miliar ke bawah diswastanisasi aja," katanya.

Menurutnya, BUMN sebaiknya bermain dengan pasar yang besar, sehingga bisa menjadi garda terdepan bersaing dengan asing.

"Tapi tinggal secara segi hukumnya ini penting payung hukumnya jangan sampai nanti dengan kita privatisasi atau swastanisasi daripada BUMN kecil, toh BUMN ngapain main yang kecil-kecil, mendingan main yang gede-gede yang puluhan triliun yang kita bisa juga menjadi garda terdepan bersaing dengan asing," terang Erick.

Indonesia sendiri memiliki perbankan yang kuat. Namun, Erick bilang perlu diubah model bisnisnya supaya bisa bersaing di pasar terbuka.

"Di bisnis perbankan ada bank asing, bank swasta, BUMNnya oke, Mandiri oke, BNI oke, BTN oke. Tapi kita ubah juga bisnis modelnya supaya bisa bersaing di market terbuka," terangnya.

(acd/hns)