Kisah Kumpulan Pedagang Cendol Dawet Gerakkan Ekonomi Dusun Lasah

Erika Dyah - detikFinance
Senin, 08 Mar 2021 08:38 WIB
Cendol dawet
Foto: Mustiana Lestari
Karangploso -

Cendol dawet merupakan minuman tradisional dari Tanah Jawa yang mudah ditemui di mana saja. Tapi tahukah Anda, Kabupaten Malang juga memiliki cendol dawet khas yang berasal dari Dusun Lasah?

Cendol Dawet dari Dusun Lasah, Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang merupakan sebuah warisan turun temurun yang telah bertahan tiga generasi lamanya. Cendol dawet ini memiliki kekhasan, yaitu dibuat dari tepung sagu, tanpa pengawet dan pemanis buatan.

Dengan resep otentik ini, masyarakat di Dusun Lasah berhasil menggerakkan perekonomian dengan berdagang cendol dawet. Adapun kegiatan usaha cendol dawet di dusun ini telah dimulai sejak tahun 1970-an dan sempat mencapai puncaknya di tahun 2000.

"Dari awalnya mulai dari 3 orang, tahun 2000-an itu ada 80 lebih yang jual dawet ini. Terus pekerjaan mulai agak lancar lagi jadi yang aktif tinggal beberapa saja, ada sekitar 36 orang sampai sekarang jualan dawet," jelas Anang Hardiansyah, penggagas Paguyuban Cendol Dawet Sagu Lasah saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Anang menjelaskan, tingginya jumlah penjual dawet saat itu disebabkan oleh krisis moneter yang membuat banyak masyarakat di Dusun Lasah kehilangan pekerjaan. Untuk dapat menopang perekonomian, warga di desa itu pun 'dodol banyu' atau berjualan air dalam bentuk cendol dawet demi menyambung hidup. Resepnya sendiri dibagikan oleh tiga pencetus awal cendol dawet di Dusun Lasah dengan mengenalkannya pada ponakan, anak, atau sanak saudara lainnya.

Perlahan ketika perekonomian mulai pulih, banyak pedagang mulai kembali bekerja di pabrik ataupun perusahaan. Anang menyebut, tersisa 36 pedagang dari Dusun Lasah yang kini masih setia berjualan dawet di wilayah Kabupaten Malang hingga Kota Batu.

Anang pun menjelaskan, dua tahun belakangan para pedagang cendol dawet ini mulai dikumpulkan dalam satu paguyuban. Perkumpulan pedagang ini bermula dari kebutuhan para pedagang akan pinjaman modal untuk mengembangkan usahanya agar memiliki perekonomian yang lebih baik.

Bak gayung bersambut, BRI melihat potensi dari perkumpulan pedagang ini. Lalu menjadikannya sebuah klaster ekonomi dengan turut memberi sokongan permodalan, juga berbagai bantuan fisik berupa sarana prasarana serta pelatihan untuk meningkatkan perekonomian para pelaku usaha cendol dawet di Dusun Lasah.

"Awalnya teman-teman memang hanya kumpul-kumpul biasa, terus pinginnya cari pinjaman modal. Kita omong-omong dengan bu Mantrinya, pas Mantri BRI bilang bisa dibantu teman-teman juga antusias. Saya sendiri bilang kalau teman-teman ini bukan butuh janji tapi butuhnya bukti, sehari (pinjaman) diproses langsung cair. Teman-teman juga ikut senang, begitu ada kegiatan BRI apapun ya jadi antusias ikut," jelas Anang.

Anang menyaksikan berbagai peningkatan ekonomi yang terjadi pada para pedagang cendol dawet di Lasah. Adanya bantuan dari BRI tak hanya membantu menggerakkan ekonomi para pedagang lebih maju lagi, tapi juga dirasa Anang dapat membantu mengenalkan literasi keuangan pada para pedagang. Sebab, para pedagang tak hanya mendapatkan bantuan pinjaman modal saja tapi juga belajar menabung melalui berbagai program yang ditawarkan oleh BRI.

"Di samping utamanya modal tadi, tabungannya juga jalan. Dari mulai rombong (gerobak) diselipkan dompet (Kantong Simpedes), juga ada juga yang nabung di rumah dan kalau sudah kumpul dibawa ke sini ditabung itu ada, ada juga yang sebulan sekali. Macam-macam sesuai manajemen keuangan masing-masing orang," ujar Anang.

"Ini dengan jaminan hanya bakul (pedagang) cendol dawet bisa hutang bank. Masuk BRI dapat pinjaman, bisa nyisakan tabungan juga, bisa untuk tabungan Stroberi Tagihan. Jadi tabungan harian ada, bulanan juga ada. Ini nanti bisa jadi ganti THR untuk dibongkar pas mau Hari Raya," tambahnya.

Salah satu pedagang dawet cendol dawet sagu Lasah Supendi mengaku sebelumnya hanya berjualan dawet menggunakan pikulan sebab tak memiliki cukup modal. Adanya bantuan modal dari BRI, membuat Supendi bisa memiliki motor dan menjangkau pasar lebih luas. Kini Supendi bisa memasarkan cendol dawet sagu buatannya di Kecamatan Pujon. Juga memasok distribusi di kafe kekinian dan tempat wisata Kafe Sawah.

"Saya dimodalin BRI juga sampai bisa beli rumah, sekolahkan anak sampe kuliah, sampai sekarang juga saya tetap jualan es dawet," ucap Supendi. Sementara itu, Kepala Desa Tawangargo Sukar berharap ke depannya baik pemerintahan dan swasta dapat terus mendukung UMKM di Tawangargo.

Cendol dawetCendol dawet Foto: Rengga Sancaya

"Khususnya di Dusun Lasah, di produsen dawet ini biar ke depan lebih bagus lagi dan ekonominya bisa terangkat juga. Perkembangannya dari tahun ke tahun sangat bagus makanya dulunya banyak produsen dawet karena sudah modern. Sekarang harus dikemas agar lebih tahan lama dan konsumsinya aman," harapnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Rejeki melihat adanya potensi usaha dari makanan tradisional yang ada di Dusun Lasah ini. Terlebih, menurutnya, Dusun Lasah yang berada di Kecamatan Karangploso ini menjadi pintu masuk wisata menuju ke Batu maupun di Kota Malang.

"Terkait dengan makanan tradisional ini terus kita kembangkan, apalagi kita itu punya pasar hampir di tiap kecamatan juga ada pasar desa. Bagaimana menggali potensi yang ada, termasuk cendol dawet. Minuman ini memang di mana-mana ada dan identik dengan tempo dulu, biasanya jual cendol dawet di bawah pohon, minumnya di batok itu justru dicari orang sekarang ini. Bagaimana kita bisa mengangkat itu kalau memang sudah ada potensi, embrionya sudah ada, ya ini kita kemas agar punya daya tarik. Sehingga minuman ini nggak akan hilang. Bagaimana kita bisa melestarikannya juga," imbuhnya.

Ia pun berharap agar para pedagang dapat mengangkat cendol dawet agar memiliki cita rasa tinggi dan nilai estetika yang bagus dalam hal kemasan. Namun tetap mempertahankan kejawaan dari cendol dawet sagu Lasah yang memiliki kekhasannya tersendiri.

Kisah para pedagang cendol dawet sagu dari Lasah terangkum dalam program Jelajah UMKM detikcom bersama BRI. Program ini mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "#BRIBersamaUMKM"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ara)