Harga Cabai Naik Gila-gilaan, Kementan Bilang Ini Penyebabnya

Abu Ubaidillah - detikFinance
Senin, 08 Mar 2021 13:31 WIB
Harga cabai di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, masih ganas, Rabu (13/01/2021). Cabai rawit merah merah dibandrol Rp 75 ribu//Kg.
Foto: Andika Tarmy/detikcom: Pedagang cabai rawit merah di Sragen
Jakarta -

Harga cabai rawit di pasaran mengalami kenaikan drastis. Kenaikan ini dikatakan karena cuaca ekstrem yang menyebabkan peningkatan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), kerusakan tanaman, dan banjir di beberapa wilayah sentra produksi.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menjelaskan berdasarkan data series produksi 5 tahun terakhir, produksi cabai rawit pada bulan Desember-Februari berstatus waspada karena produksi cenderung menurun dibanding bulan-bulan lainnya. Untuk saat ini dengan adanya cuaca ekstrem (la nina) semakin menyebabkan produksi terganggu, seperti bunga rontok yang menyebabkan gagal berbuah.

Proses pemasakan buah menjadi lebih lama karena kurangnya intensitas cahaya matahari. Masa produktif tanaman juga menjadi lebih pendek, yang biasanya 12-20 kali petik, saat ini hanya 8-12 kali petik karena pematangan buah menambah hari petik yang biasanya 4 hari bisa menjadi 7-8 hari per sekali petik.

"Tak hanya itu, musim hujan juga meningkatkan serangan OPT seperti virus kuning, antraknosa, lalat buah, dan lain sebagainya," ujar Anton dalam keterangan tertulis, Senin (8/3/2021).

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, serangan OPT terbanyak adalah virus kuning 26%, antraknosa 29%, lalat buah 17%, virus keriting 16%, dan thrip 12% dari luar pertanaman yang ada. Sehingga, secara nasional luas pertanaman cabai yang terkena serangan OPT saat ini sebanyak 1.152 hektare dan puso 0,15 hektare.

Virus kuning menyebabkan tanaman tak berkembang dan tak produktif, bila tanaman yang terserang masih bertahan maka produktivitasnya menurun 20-30%. Sedangkan serangan antraknosa dan lalat buah yang masif mendorong petani untuk memanen buah sebelum waktunya sehingga kualitas buah menjadi turun.

Cuaca ekstrem ini juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra produksi cabai, dampaknya pertanaman rusak bahkan puso. Dari data Direktorat Perlindungan Hortikultura, total luas pertanaman cabai nasional yang banjir dan puso pada bulan Oktober-Desember 2020 seluas 431 hektare yang tersebar di Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. Sedangkan pada Januari-Februari 2021 seluas 404,7 hektare di Kalsel, Sumut, Sumbar, Sulteng, Kalbar, Jambi, Jatim, dan NTT.

Ketua Asosiasi Cabai Indonesia dan Juhara, Hamid membenarkan hal tersebut. Pihaknya menjelaskan berdasarkan pantauan dari seluruh anggota perwakilan di daerah sentra, berkurangnya produksi cabai saat ini dikarenakan berkurangnya luas tanam.

Petani sempat merugi karena rendahnya harga cabai akibat pandemi COVID-19 yang terjadi pada bulan Maret-September 2020. Hal tersebut membuat banyak petani tidak balik modal bahkan merugi. Sehingga pada musim tanam saat ini mereka mengurangi populasi pertanaman cabainya. Luas tanamnya berkurang sehingga produksi juga berkurang. Jadi efek berantai tersebut menjadi akumulasi terhadap penurunan produksi.

Berdasarkan Data Early Warning System (EWS) Direktorat Jenderal Hortikultura, diprediksi neraca ketersediaan cabai rawit akan aman pada bulan Maret hingga Mei mendatang. Surplus produksi pada bulan ini diperkirakan sebanyak 12.000 ton dan akan meningkat pada bulan April sebanyak 42.000 ton serta Mei sebanyak 48.000 ton.

Anton kembali mengatakan pihaknya akan melakukan berbagai upaya dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga dengan mendorong petani menerapkan inovasi rainshelter pada penanaman cabai off season (Juli-Agustus). Untuk menjaga pasokan cabai di DKI Jakarta sebagai barometer harga komoditas nasional, perlu ada buffer stock berupa standing crop di wilayah-wilayah daerah penyangga yang dapat dikendalikan pemerintah.

Selain itu Kementan juga melakukan kerja sama dengan offtaker yang mampu memindahkan produksi dari daerah-daerah yang surplus produksi ke daerah yang kekurangan produksi serta mampu menyerap produk petani di saat harga jatuh sehingga petani tetap berminat untuk selalu bertanam sepanjang tahun.

Langkah lainnya adalah melakukan edukasi ke masyarakat untuk mengkonsumsi cabai olahan (kering, bubuk, pasta, sambal botol, saus), sehingga tidak tergantung kepada cabai segar. Masyarakat juga dapat melakukan pengawetan sendiri pada saat harga cabai sedang rendah serta menggerakkan masyarakat rumah tangga untuk dapat bertanam aneka cabai di pekarangan, sehingga tidak terlalu terpengaruh apabila terjadi lonjakan harga cabai di pasaran.

"Dalam mengimplementasikan berbagai upaya tersebut, tentu harus ada sinergi dari berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah sebagai pengambil kebijakan, petani sebagai produsen, namun juga perlu peran konsumen. Perlu adanya kerja sama dalam melakukan edukasi terhadap konsumen untuk mengubah pola konsumsinya," pungkasnya.

(prf/hns)