Sedih, Layunya Bisnis Mawar di Batu Saat Pandemi

Mustiana Lestari - detikFinance
Jumat, 12 Mar 2021 10:08 WIB
Warna warni mawar yang rupawan di Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kabupaten Malang tak seindah bisnis mawar di kala pandemi.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Warna warni mawar yang rupawan di Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kabupaten Malang tak seindah bisnis mawar di kala pandemi. Sudah sejak 2002 bisnis mawar di sini mulai mekar namun harus mendadak layu karena turunnya permintaan.

"Sekarang permintaan kurang hampir 100 persen di Bali. Kita memang nggak pernah nggak kirim cuma pelanggan paling tinggal 2 pelanggan dulu 10 pelanggan. Sekarang permintaan tinggal 200 tangkai. pemintaan ga seperti sebelum pandemi tapi Jakarta sudah kembali normal," kata salah satu penjual bunga sekaligus anggota Gapoktan Gunungsari, Effendi, kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Padahal dulu, kata Effendi, para petani bunga mawar bisa mengirim 2.400 tangkai bunga yang tidak hanya mawar, tetapi juga aster, rhodesia hingga dedaunan.

"24.000 ribu tangkai, satu tangkai 700 rupiah itu mawar aja. Jadi 1 truk pengiriman ke Jakarta bisa Rp 50 juta. Sekarang produksi bunga juga nggak banyak paling Rp 5 juta sekali pengiriman," lanjutnya.

Bahkan dia mengaku saat Valentine atau Imlek di kala pandemi, penjualan bunga tidak naik begitupun harganya. Alih-alih harga bunga mahal malahan anjlok ketika sampai di Jakarta.

"Kalau harga nggak bisa naek susah. Valentine di sini harga Rp 2.500 per tangkai di Jakarta dinota 1.000. Kita kirim 2 kali akhir-akhirnya dapatnya terserah harga sana padahal di sini harga Rp 2.500. Pengennya petani itu tiap hari juga ada pengiriman nggak peduli Valentine dan Imlek. Maunya gitu," lanjutnya yang biasa mengirim ke berbagai toko bunga di Jakarta dan Bali.

Para petani bukan hanya dipusingkan dengan harga bunga anjlok serta permintaan yang sedikit, melainkan juga cuaca. Di saat musim hujan seperti ini, dia mengatakan produksi bunga biasanya turun.

"Susah jualan di Bali sekarang mending di Jawa. Kalau nggak ngirim mau makan apa. semua merasakan pandemi," tambahnya.

Klaster bunga mawar ini merupakan salah satu UMKM binaan Bank BRI. Beberapa fasilitas sudah diberikan Bank BRI salah satunya gapura wisata. Bank BRI juga memberikan pinjaman lunak kepada para petani untuk mengembangkan usaha mereka.

Kisah petani mawar ini menjadi satu dari kumpulan kisah dalam program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia. Program Jelajah UMKM mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, Ikuti terus jelajah UMKM bersama BRI hanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Bunga Krisan Sidomulyo Yang Tetap Mekar di Era Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)