Trump Lengser, Xiaomi Tak Lagi Diblokir di AS

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 13 Mar 2021 20:00 WIB
BARCELONA, SPAIN - FEBRUARY 26:  A logo sits illumintated outside the Xiaomi booth on day 2 of the GSMA Mobile World Congress 2019 on February 26, 2019 in Barcelona, Spain. The annual Mobile World Congress hosts some of the worlds largest communications companies, with many unveiling their latest phones and wearables gadgets like foldable screens and the introduction of the 5G wireless networks. (Photo by David Ramos/Getty Images)
Foto: David Ramos/Getty Images
Jakarta -

Perusahaan pembuat ponsel pintas asal China, Xiaomi tak lagi masuk dalam daftar hitam investasi di Amerika Serikat (AS). Hakim AS, Rudolph Contreras memerintahkan agar blokir terhadap Xiaomi di AS dihapus sementara.

Sebagaimana diketahui, enam hari sebelum Donald Trump meninggalkan jabatannya tahun lalu, ia malah meningkatkan perang dagang melawan Beijing. Saat itu, Trump langsung menargetkan perusahaan-perusahaan besar China seperti TikTok hingga raksasa minyak China CNOOC.

Xiaomi adalah salah satu dari 9 perusahaan yang diklasifikasikan oleh Pentagon sebagai Perusahaan Militer Komunis China.

Dikutip dari NDTV, Sabtu (13/3/2021), menurut Rudolph, Departemen Pertahanan dan Keuangan AS belum memutuskan apakah ada kepentingan nasional yang dipertaruhkan dengan listingnya Xiaomi di bursa AS. Sebab, belum ada bukti Xiaomi terkait dengan militer China sebagaimana yang dituduhkan. Akhirnya, Rudolph pada Jumat (12/3) kemarin menghapus blokir tersebut.

Dalam banding yang diajukan pada Januari lalu, Xiaomi, yang menjadi produsen smartphone terbesar ketiga di dunia itu, sempat protes. Xiaomi mengatakan langkah Washington tidak benar dan telah mencabut proses hukum perusahaan.

Keputusan Contreras dibuat pada hari yang sama, saat regulator AS justru kembali memasukkan perusahaan teknologi China lainnya ke dalam daftar perusahaan yang mengancam keamanan nasional mereka. Perusahaan teknologi yang dimaksud adalah Huawei dan ZTE.

Washington mengklaim Huawei memiliki hubungan dekat dengan militer China dan bahwa Beijing dapat menggunakan teknologinya itu untuk spionase, namun tuduhan itu dibantah oleh perusahaan.

Hal ini membuat upaya pemerintahan Joe Biden melunakkan perang dagang kedua negara adidaya tersebut menjadi tak berasa.

(fdl/fdl)