Publik Swiss Setuju Kerja Sama dagang dengan RI, Ekspor Sawit bakal Mulus?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 14 Mar 2021 12:07 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengaku senang dengan hasil referendum masyarakat Swiss soal perjanjian dagang Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IE-CEPA dengan Indonesia.

Mayoritas rakyat Swiss setuju terhadap kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan European Free Trade Association (Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa/EFTA). EFTA sendiri terdiri dari Swiss, Norwegia, Islandia dan Lietchtenstein.

Jerry menjabarkan 51,6% publik Swiss setuju IE CEPA disahkan dan diimplementasikan antara dua negara. Hal itu menurutnya memberikan harapan cerah bagi peningkatan ekspor dan impor produk Indonesia di negara-negara Eropa.

"Kita sangat menyambut positif, ini adalah hasil yang memberikan harapan cerah bagi ekspor Indonesia di Eropa," ujar Jerry dikutip Minggu (14/3/2021).

Melalui IE-CEPA, Indonesia akan mendapatkan penghapusan 7.042 pos tarif Swiss dan Liechtenstein, 6.338 pos tarif Norwegia, dan 8.100 pos tarif Islandia. Selain itu, penerapan IE-CEPA ditargetkan juga akan meningkatkan investasi yang berdampak positif bagi Indonesia.

Selama ini, Jerry menilai publik Swiss dikenal sangat kritis terhadap isu-isu lingkungan, kesehatan dan sosial. Hal-hal tersebut biasanya menjadi alasan bagi pemberlakuan hambatan bagi produk-produk dari negara lain masuk ke Swiss, tak terkecuali Indonesia.

Adapun salah satu produk yang dikritisi oleh publik Swiss yang paling sering disuarakan adalah mengenai isu kelapa sawit Indonesia. Beberapa lembaga swadaya masyarakat di Swiss pun beberapa waktu lalu secara resmi mengampanyekan isu negatif soal sawit yang juga menjadi agenda salah satu referendum.

Jerry mengatakan publik Swiss memang menerima pernyataan yang kurang seimbang mengenai produk andalan Indonesia itu. Dalam wawancara dengan media yang cukup berpengaruh di Swiss, Jerry pernah mengatakan bahwa Indonesia mempunyai standar dan peta jalan untuk kelapa sawit yang ramah lingkungan dan memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Dia juga meyakinkan komoditas kelapa sawit dari aspek lingkungan justru lebih efisien karena satu hektar kelapa sawit menghasilkan produk yang setara dengan hasil 6 hektar produk minyak nabati yang lain.

Jerry menilai referendum mengenai IE-CEPA ini jelas memberikan harapan untuk pemahaman publik Swiss mengenai kelapa sawit dan semua produk Indoensia lainnya. Baginya, ini juga mengindikasikan niat baik dari kedua belah pihak dalam hal saling memahami pada kerja sama perdagangan.

IE-CEPA sendiri mencakup kesepakatan di bidang akses pasar perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, skema khusus untuk UMKM serta kerja sama dan pengembangan kapasitas.

Volume perdagangan Indonesia dan EFTA menunjukkan trend yang sangat positif. Pasalnya total nilai perdagangan Indonesia ke EFTA di tahun 2019-2020 mengalami peningkatan sebesar 92,62% yang sebelumnya hanya sebesar US$ 1,7 miliar di tahun 2019.

Peningkatan terjadi hingga mencapai US$ 3,3 miliar di tahun 2020. Dengan pengesahan IE-CEPA diharapkan akan terjadi peningkatan yang lebih signifikan lagi.

"Kita optimis bahwa kontribusi ekspor yang saat ini baru mencapai 13% dari ekonomi nasional akan segera meningkat di tahun-tahun mendatang," ungkap Jerry.

(hal/zlf)