Jarang Ada Hajatan hingga Maulid Saat Pandemi, Bisnis Rebana Kian Sunyi

Angga Laraspati - detikFinance
Kamis, 18 Mar 2021 14:22 WIB
rebana
Foto: Pradita Utama
Demak -

Rebana di Demak mempunyai sejarah yang panjang sejak dahulu kala. Dikisahkan, rebana menjadi salah satu sarana Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Sampai saat ini rebana tetap eksis dan menumbuhkan banyak para perajin dari UMKM di Demak. Dari beberapa perajin rebana di Demak, Ahmad Afif (31) menjadi salah satu di antaranya. Afif meneruskan kerajinan rebana yang telah menjadi usaha turun temurun.

"Dulu rebana dan bedug ini kan untuk alat syiar agama islam, dari kanjeng Sunan Kalijaga memang turun temurun dan identik di demak. Bapak saya juga turun temurun, bapak meneruskan dari punya mbah, mbah dari mbah buyut, bisa dibilang ya ilmu turun temurun, dan sekarang saya generasi barunya," ungkap Afif kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Dalam menggeluti usaha turun temurun ini, Afif mengaku ada sedikit perbedaan dari cara pembuatannya di zaman dulu dan juga sekarang. Perbedaannya terletak pada kayu dan juga proses pembuatan yang sudah menggunakan mesin, namun dari segi kulit rebana masih sama dengan yang dahulu.

"Bahannya ada kayu trembesi, mahoni, nangka, mengambil dari bakul kayu lalu dikirim. Bahan-bahannya dari Demak sih. Kalau beberapa kayu besar ada dari kabupaten sebelah seperti Purwodadi, Tegal, Pemalang, karena kalau kayu-kayu gede itu di Demak agak jarang," jelasnya.

Dalam proses pembuatannya, biasanya satu kayu utuh akan dibubut terlebih dahulu dan dibentuk menggunakan mesin. Setelah kayu sudah dibubut, kemudian Afif akan mengamplas kayu tersebut hingga halus untuk kemudian dikeringkan, sebab kayu yang masih basah akan menghasilkan produk yang jelek.

"Masa pengerjaannya itu cepat, tapi lamanya hanya di menunggu keringnya saja. Biasanya 2 hari selesai. Karena ngeringinnya kan manual pakai matahari, karena kalau di oven kayunya jadi kurang bagus. Makanya kita stok kayu keringnya banyak jadi kayu yang kering bisa dipakai, yang masih basah ya disimpan lagi," imbuhnya.

rebanarebana Foto: Pradita Utama

Afif mengatakan di 2017 ia pernah mendapatkan pesanan terbanyak untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi sekitar 4 truk besar atau 800 buah untuk disuplai ke sekolah-sekolah yang ada di Ngawi.

"Itu selesai proses pengerjaan dalam 2 bulan. Kerjanya ya siang malam, rata-rata untuk dinas itu mintanya cepet, kita dikasih deadline 2 bulan maksimal, kalau lewat yah angus. Tahun selanjutnya minta lagi karena masih kurang karena itu baru SD. Itu di tahun 2017. Waktu itu omzet kotornya sampai ratusan juta," katanya.

Ia pun juga sering kebanjiran order menjelang hari besar Maulid Nabi. Ini disebabkan menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut banyak musala dan juga masjid yang menggelar acara maulid nabi

"Kalau di Ramadan malah sepi, ramainya justru di bulan maulid bulan kelahiran Rasulullah baru ramai, hampir tiap musala di Jawa Tengah dan menyeluruh itu dari tanggal 1-12 maulid full terus, puncaknya ya di bulan maulud. Tahun baru Islam juga justru kurang sih," katanya.

Sayangnya, di masa pandemi kali ini Afif mengatakan ada penurunan omzet. Ini disebabkan beberapa daerah memberlakukan PSBB dan kegiatan seperti hajatan dan juga belajar mengajar tidak diperbolehkan.

"Di Indonesia biasanya orang hajatan di desa-desa ada iringan rebana nah ini sedang tidak dibolehkan, lalu di sekolah juga libur, jadi ya benar-benar menurun. Kalau hari normal biasanya saya ada 14 pekerja, kalau sekarang hanya tinggal 2 orang," katanya.

Namun, bukan berarti ia tidak ada pesanan. Ketika detikcom berkunjung ke workshop miliknya beberapa pekerja sedang mengerjakan beberapa rebana yang akan dikirimkan ke negeri tetangga yaitu Malaysia.

"Iya ini Alhamdulillah mau ada kiriman ke Johor, Malaysia 4 set rebana," ucapnya.

Perjalanan usaha keluarga Afif pun juga tak luput dari bantuan modal yang diberikan, salah satunya dari Bank BRI. Usaha keluarga sudah menjadi mitra BRI sejak tahun 1999 dan selalu menghubungi BRI dalam hal peminjaman dana segar.

"Dulu saya pinjam ke BRI untuk pengembangan bisnis sih, untuk pembangunan, ada peningkatan produksi. Dulu kita hanya bisa produksi 4 pcs, sekarang bisa sampai di 18-24 pcs, bisa dihitung lah persentasenya bisa 6 kali lipat lah," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/mpr)